Sunday, 4 March 2012

little story :)


Menatap sang surya yang tersenyum dengan megah. Hamparan tanah hijau terbentang di depan mata. Beberapa orang terlihat berjalan kesana kemari sambil membawa berbagai barang. Diselingi tawa dan canda, suara hiruk pikuk di dalam kelas masih terdengar. Kerja kelompok serta kegiatan ekstrakurikuler masih terlihat.
Jam menunjukkan hampir pukul satu siang. Aku duduk melamun sendiri di sanggar. Sanggar ini adalah pusat seluruh kegiatan di sekolahku.
Bekal yang ku bawa sudah habis ku makan. Duduk sendirian. Dalam ingatanku terbesit berbagai kenangan – kenangan lama. Kenangan-kenangan indah waktu lampau.
Terbesit ketika aku masih bersamamu. Waktu-waktu indah bersamamu begitu terasa singkat. Perpisahan ni haruslah terjadi, karena engkau harus pergi memilih yang lain. aku sadar aku jauh dari lebih, jauh dari sempurna. Memang, manusia di bumi ini tak ada yang sempurna. “aku akan selalu menyayangimu sampai kita mati Sep “, katanya dulu. Kata-kata itu hanya tinggal kenangan. “aku berjanji akan selalu menjaga cinta kita Sep,” katanya lagi. “benarkah itu mas And ?” kataku. “iya dik. Aku janji,”. Semua kata-kata itu kini hanyalah sebuah gombal yang patut dibuang. Pernah terlintas di benakku untuk coba menghubungimu, namun hati ini tak kuasa. Jika aku menghubungimu, tetes air matalah yang berbicara.
20 januari, hari ulang tahunmu. Pukul 00.00 ku panjatkan doa tulus dari dalam lubuk hatiku untukmu sang mantan kekasih yang dulu hingga kini ku cinta. Aku tak berani mengatakan semuanya padamu. Entah lewat jejaring sosial atau entahlah, aku tak kuasa.
Boneka beruang coklat raksasa. Salah satu bukti cintamu padaku. Namun, ku tak bisa menerimanya. Ku serahkan itu pada teman karibmu. Aku ikhlas. Aku ikhlas hanya bisa membayangkan wajah manismu dalam ingatanku.
“bagaimana hubunganmu dengan Mas And ?”, tanya Mimi, dia sahabat karibku. Aku Cuma mendehem pelan. “semuanya terbuang sia-sia, semua pengorbananku, penantianku ternodai oleh kehadiran seorang wanita yang belum ku ketahui identitasnya hingga sekarang.
Setiap hari , setiap jam ku buka salah satu situs jejaring sosial. Saat itu juga, ku luangkan sedikit waktu untuk melihat akunmu. Jika statusmu ada yang membuatku bahagia, aku pun tersenyum lebar. Namun, sering juga ku menitikkan air mata karena melihat statusmu yang begitu menyakitkan bagiku.
Pagi ini, aku di rumah sendirian. Ku mengecek pergerakkanmu di situs jejaring sosial. Ku temukan statusmu yang baru, sepertinya kamu keelakaan. Aku sangat khawatir akan keadaanmu. Aku ingin menghubungimu, namun apa daya, aku tlah berjanji pada sahabat-sahabatku, aku tak akan menghubungi dia lagi. Aku hanya bisa berdoa di dalam lubuk hatiku yang dalam semoga engkau selalu dalam lindunganNya.
Aku Cuma bisa berdoa. Ya, hanya bisa berdoa. Karena aku tak kuasa untuk mengajakmu berkata-kata. Diam. Tenang. Ya, hanya itu. Meskipun itu hanya kedok belaka.

No comments:

Post a Comment