Tuesday, 28 January 2014

makalah kepribadian



BAB I
PENDAHULUAN
1.1                                                       Latar Belakang
Manusia adalah makhluk yang kompleks, kekompleksitasan manusia itu tiada taranya di muka bumi ini. Manusia lebih rumit dari makhluk apapun yang bisa dijumpai dan jauh lebih rumit dari mesin apapun yang bisa dibuat. Manusia juga sulit dipahami karena keunikannya. Dengan keunikannya, manusia adalah makhluk tersendiri dan berbeda dengan makhluk apapun. Juga dengan sesamanya. Tetapi, bagaimanapun sulitnya atau apapun hambatannya, manusia ternyata tidak pernah berhenti berusaha menemukan jawaban yang dicarinya itu. Dan barang kali sudah menjadi ciri atau sifat manusia juga untuk selalu mencari tahu dan tidak pernah puas dengan pengetahuan-pengetahuan yang diperolehnya, termasuk pengetahuan tentang dirinya sendiri dan sesamanya.

Sekian banyak upaya yang telah diarahkan untuk  memahami  manusia. Tetapi tidak semua upaya tersebut membawa hasil, namun upaya pemahaman  tentang manusia tetap memiliki arti penting dan tetap harus dilaksanakan. Bisa dikatakan bahwa kualitas hidup manusia, tergantung kepada peningkatan pemahaman kita tentang manusia. Dan psikologi, baik secara terpisah maupun sama-sama dengan ilmu-ilmu lain, sangat berperan  secara mendalam dalam penganganan masalah kemanusiaan ini. Oleh karena itu, kami akan mengulas mengenai kekhasan manusia dalam sebuah makalah yang berjudul “Kepribadian”.

1.2            Rumusan Masalah
1.       Apa yang dimaksud dengan watak ?
2.       Apa yang dimaksud dengan sikap ?
3.       Apa yang dimaksud dengan tempramen ?
4.       Apa yang dimaksud dengan kepribadian ?
5.       Apa faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian ?
6.       Bagaimanakah kepribadian yang sehat ?
7.       Bagaimanakah kepribadian yang tidak sehat ?
8.       Apa saja sifat kepribadian utama yang mempengaruhi perilaku organisasi ?
1.3            Tujuan
1.     Untuk menjelaskan mengenai watak
2.     Untuk menjelaskan mengenai sikap
3.     Untuk menjelaskan mengenai tempramen
4.     Untuk menjelaskan mengenai kepribadian
5.     Untuk menjelaskan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian
6.     Untuk menjelaskan mengenai kepribadian yang sehat
7.     Untuk menjelaskan bagaimana kepribadian yang tidak sehat
8.     Untuk menjelaskan mengenai sifat kepribadian utama yang mempengaruhi perilaku organisasi





BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Sikap, Sifat, Temperamen dan Watak
Para ahli psikologi pada umumnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kepribadian/personality itu bukan hanya mengenai tingkah laku yang dapat diamati saja, tetapi juga termasuk di dalamnya apakah sebenarnya individu itu. Jadi selain tingkah laku yang tampak, ingin diketahui pula motifnya, minatnya, sikapnya, dan sebagainya yang mendasari pernyataan tingkah laku tersebut.
Oleh karena itu, sebelum kita sampai kepada uraian lebih lanjut tentang apakah kepribadian itu, ada baiknya kita uraikan terlebih dahulu beberapa pengertian yang sangant erat hubungannya dengan masalah kepribadian, yakni : sikap, sifat, temperamen dan watak.

2.2 Sikap
Di dalam pergaulan sehari-hari “sikap” seringkali digunakan dalam arti yang salah atau kurang tepat. Si Budi “sikapnya” lemah. Kakak saya tidak diterima masuk tentara karena “sikap” badannya kurang tegap. Murid itu dihukum oleh gurunya karena “bersikap” kurang ajar. Penggabungan kata sikap secara sembarangan saja seperti itu, dapat mengaburkan arti yang sebenarnya dari kata itu.
            Sikap, atau yang dalam bahasa Inggris disebut attitude adalah suatu cara bereaksi terhadap perangsang. Suatu kecenderungan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap suatu perangsang atau situasi yang dihadapi. Bagaiman reaksi seseorang jika ia terkena sesuatu rangsangan baik mengenai orang, benda-benda, ataupun situasi-situasi yang mengenai dirinya. Sebagai contoh : Pak Amin bersikap acuh-tak acuh terhadap persoalan yang menyangkut keluarganya. Pak Diran selalu marah-marah jika melihat halaman rumahnya kotor. Setelah, mendapat nasihat dari bapak guru, Aminah tidak suka melamun lagi dalam kelas. Dari contoh-contoh tersebut di atas kita dapat mengatakan bahwa sikap adalah suatu perbuatan/tingkah laku sebagai reaksi/respon terhadap suatu rangsangan/stimulus, yang disertai dengan pendirian dan atau perasaan orang itu.
            Ellis mengemukakan sikap itu sebagai berikut : Attitudeinvolve some knowledge of situation. However, the essential aspect of the attitude is found in the fact that some characteristic feeling or emotion is experienced, and as we would accordingly expect, some definite tendency to action is associated. Jadi menurut Ellis, yang sangat memegang peranan penting di dalam sikap adalah faktor  perasaan atau emosi, dan faktor kedua adalah reaksi/respon, atau kecenderungan untuk beraksi. Dalam beberapa hal, sikap merupakan penentu yang penting dalam tingkah laku manusia. Sebagai reaksi maka sikap selalu berhubungan dengan dua alternatif, yaitu senang (like) atau tidak senang (dislike), menurut dan melaksanakannya atau menjauhi atau menghindari sesuatu.
            Tiap orang mempunyai sikap yang berbeda-beda terhadap sesuatu perangsang. Ini disebabkan oleh berbagai faktor yang ada pada individu masing-masing seperti adanya perbedaan dalam bakat, minat, pengalaman, pengetahuan, intensitas perasaan, dan juga situasi lingkungan. Demikian pula sikap pada diri seseorang terhadap sesuatu/perangsang yang sama mungkin juga tidak selalu sama. Pada suatu ketika pak guru A marah-marah karena kelasnya ribut, tetapi pada ketika yang lain ia tidak begitu menghiraukan meskipun kelasnya rebut pula.
            Bagaimana sikap kita terhadap berbagai hal di dalam hidup kita, adalah termasuk ke dalam kepribadian kita. Di dalam kehidupan manusia, sikap selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Peranan pendidikan dalam menentukan sikap pada anak-anak didik adalah sangat penting. Menurut Ellis, faktor-faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan sikap anak-anak yang perlu diperhatikan di dalam pendidikan ialah : kematangan (maturation), keadaan fisik anak, pengaruh keluarga, lingkungan sosial, kehidupan sekolah, bioskop, guru, kurikulum sekolah, dan cara guru mengajar.

2.3 Sifat
            Kata “sifat”  (traits) dalam istilah psikologi, berarti ciri-ciri tingkah laku yang tetap atau hampir sama pada seseorang, seperti: Si Burhan pemarah; Si Botak pembohong/pendusta; Si Aminah penangis, dan lain-lain, semua awalan pe pada kata pemarah, pendusta, penangis, dan lain-lain itu menunjukkan bahwa perbuatan-perbuatan seperti itu sering muncul sehingga menjadi suatu ciri khas dari tingkah laku seseorang, dapat dikatakan bahwa perbuatan-perbuatan tersebut merupakan sifat-sifat orang yang bersangkutan. Sehingga dengan demikian, mungkin kita dapat mengatakan, bahwa Si A bersifat pemarah, Si B bersifat pendusta dan sebagainya. Akan tetapi perlu diingatkan di sini, bahwa untuk mengetahui/menentukan adanya sifat-sifat tertentu pada seseorang adalah tidak mudah. Untuk mengetahui sifat-sifat seseorang yang sebenarnya, memperlukan waktu dan proses pergaulan yang lama, di samping pengetahuan psikologi sebagai dasarnya. Tergesa-gesa menyangka adanya sifat-sifat tertentu pada seseorang adalah suatu perbuatan yang ceroboh dan seringkali menimbulkan salah terka.
            Alport, seseorang ahli psikologi yang sangat terkenal dalam uraiannya tentang kepribadian (personality), mengemukakan pendapatnya tentang sifat (traits) itu sebagai berikut: “…. traits are dynamic andflexible dispositions, resulting, at least in part, from the integration of specific habits, expressing characteristic modes of adaptation to one’s surroundings”. Secara bebas dapat kita terjemahkan sebagai berikut: “…. sifat (sifat-sifat) ialah disposisi yang dinamis dan fleksibel, yang dihasilkan dari pengintegrasian kebiasaan-kebiasaan khusus/tertentu, yang menyatakan diri sebagai cara-cara penyesuaian yang khas terhadap lingkungannya”. Yang dimaksud dengan “disposisi” dalam batasan tersebut ialah: suatu unsur kepribadian yang mencerminkan kecenderungan-kecenderungan masa lalu atau pengalaman-pengalaman yang telah lampau. Sesuai dengan batasan di atas, dapat juga dikatakan bahwa tingkah laku seseorang yang merupakan sifat itu lebih diatur/dipengaruhi dari dalam diri individu itu sediri, dan relatif bebas dari pengaruh-pengaruh lingkungan luar. Atau secara sederhana dapat dikatakan: Sifat merupakan ciri-ciri tingkah laku atau perbuatan yang banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor dari dalam diri seperti pembawaan, minat, konstitusi tubuh dan cenderung bersifat tetap/stabil.
            Di samping itu, hendaknya diketahui pula bahwa dalam setiap individu terdapat macam-macam sifat yang saling berhubungan satu sama lain, dan kesemuanya merupakan pola tingkah laku yang menentukan bagaimana watak atau karakter orang tersebut.

2.4 Temperamen
            Ada orang yang mengartikan temperamen sama dengan watak. Seperti halnya dengan sikap dan sifat yang telah diuraikan di atas, temperamen merupakan salah satu komponen dari watak. Jadi dengan demikian, sikap, sifat, dan temperamen semuanya merupakan aspek-aspek kepribadian pula.
            Temperamen adalah sifat-sifat jiwa yang sangat erat hubungannya dengan konstitusi tubuh. Yang dimaksud dengan konstitusi tubuh di sini adalah keadaan jasmani seseorang yang terlihat dalam hal-hal yang khas baginya, seperti keadaan darah, pekerjaan kelenjar, pencernaan, pusat saraf, dan lain-lain.
            Temperamen lebih merupakan pembawaan dan sangat dipengaruhi kepada konstitusi tubuh. Oleh karena itu temperamen sukar diubah atau dididik, tidak dapat dipengaruhi oleh kemauan atau kata hati orang yang bersangkutan. Untuk lebih jelasnya, dapat diperhatikan contoh-contoh berikut: Bing Slamet memiliki kemampuan melawak yang sangat dikagumi, karena ia memiliki tipe tubuh dan raut muka yang demikian rupa, sehingga baru saja melihat mimiknya orang sudah ingin tertawa. Lain halnya dengan Iskak, meskipun ia juga terkenal sebagai pelawak termasuk dalam kwartet Jaya, lawakan Iskak dapat lebih kita lihat “dibuat-buat”. Ini antara lain disebabkan oleh konstitusi tubuh dari kedua pelawak itu yang memang tidak sama. Contoh lain: kita sering pula melihat seorang guru yang bagaimana pun ia berusaha untuk berbuat lucu, tetapi tidak kelihatan lucu, karena tipe raut mukanya yang tidak  memungkinkan  untuk berbuat demikian. Seseorang yang bermuka seram, tidak mungkin dapat belajar melawak dengan sukses. Perhatikan pula bagaimana tingkah laku orang yang tinggi-kurus di waktu marah, dibandingkan dengan kemarahan orang yang gemuk pendek.
            Banyak lagi contoh-contoh lain yang menunjukkan temperamen seseorang, yang merupakan ciri-ciri khas orang yang bersangkutan.
            Jika ketiga aspek kepribadian tersebut di atas kita jajarkan maka sebagai rangkuman dapat dikatakan sebagai berikut:
·       Sikap adalah hasil dari pengaruh lingkungan, sedangkan
·       Temperamen hampir-hampir tidak dipengaruhi lingkungan, dan
·       Sifat berada di tengah-tengah, merupakan pencampuran antara sifat-sifat pembawaan dan pengaruh lingkungan.
2.5 Watak
            Di atas telah beberapa kali dikatakan, bahwa sikap, sifat dan temperamen adalah termasuk ke dalam watak. Jadi ketiganya merupakan komponen-komponen watak. Dengan demikian, watak atau karakter mengandung pengertian yang lebih luas, mencakup di dalamnya pengertian sikap, sifat-sifat dan temperamen.
            Pengertian watak sering kali pula dihubungkan dengan pengertian moral atau nilai-nilai etis, yakni tentang apa yang disebut baik dan buruk.
            Untuk memberikan definisi yang tepat tentang apa yang dimaksud dengan watak adalah sangat sukar kalau tidak boleh dikatakan tidak mungkin. Setiap definisi yang dikemukakan belum dapat memperjelas pengertian kita tentang watak itu, dan masih diperlukan adanya keterangan dan penjelasan lebih lanjut. Dapat juga kita mengatakan: watak ialah struktur batin manusia yang tempak pada kelakuan dan perbuatannya, yang tertentu dan tetap. Ia merupakan ciri khas dari pribadi orang yang bersangkutan.
            I.R Pedjawijatna mengemukakan: “watak atau karakter ialah seluruh aku yang ternyata dalam tindakannya (insani, jadi dengan pilihan) terlibat dalam situasi, jadi memang di bawah pengaruh dari pihak bakat, temperamen, keadaan tubuh dan lain sebagainya”.
            Selanjutnya ia mengatakan, bahwa watak itu dapat dipengaruhi dan dididik, tetapi pendidikan watak itu tetap merupakan pendidikan yang amat individual dan tergantung kepada kehendak  bebas dari orang yang dididiknya.
            Valentino, mengemukakan tentang watak dalam hubungannya dengan “the self” seperti berikut:
“The more a man ceases to be the creature of varyingand often conflicting impulses, or to be dominated by the influence of person with him at the moment, and the more he builds up a few main dominates his conduct, and nearer be comes to controlling all his actions by some ideal of conduct  or ideal of his own self in short, the more stable and consistent he becomes, the more he revels what we usually call character. This term implies essentially something relatively permanent: the organization of the self as revealed in conduct whether that conduct be on the whole morally good or bad”.
Melihat definisi di atas seperti pernah dikatakan watak ialah struktur batin manusia yang Nampak dalam tindakan tertentu dan tetap baik tindakan itu baik atau buruk. Lebih dari temperamen, yang sangat dipengaruhi oleh konstitusi tubuh dan pembawaan lainnya, maka watak atau karakter lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan seperti:pengalaman, pendidikan, intelijensi dan kemauan.
            Dalam hubungan ini, Kerchensteiner mengemukakan sebagai berikut: “watak  ialah keadaan jiwa yang tetap, tempat semua perbuatan kemauan ditetapkan/ditentukan oleh prinsip-prinsip yang ada dalam alam kejiwaan”. Jadi menurut Kerchensteiner watak manusia terbukti dalam kemauan dan perbuatannya.
            Kerchensteiner membagi watak manusia menjadi dua bagian, yakni watak biologis dan watak intelijibel. Watak biologis mengandung nafsu/dorongan insting yang rendah, yang terikat kepada kejasmanian atau kehidupan biologisnya. Watak biologis ini tidak dapat diubah atau dididik. Sedangkan watak intelijibel ialah yang bertalian dengan kesadaran dan intelijensi manusia. Watak ini mengandung fungsi-fungsi jiwa yang tinggi, seperti: berpikir, kehalusan perasaan, dan Aufwuhlbarkeit (= lama dan mendalamnya getaran jiwa ). Menurut Kerchensteiner, watak inilah yang dapat diubah dan dididik. Ia menyarankan, bahwa untuk mendidik watak seseorang (anak didik) dengan baik, didiklah kemaunnya, cara berfikirnya, dan kehalusan perasaannya kea rah yang baik.
            Selain mengemukakan, bahwa untuk mempelajari tingkah laku atau watak secara lebih efektif, ahli psikologi hendaknya membedakan dua faktor , yakni faktor biologis dan faktor kultural. Menurut Sartain, sifat-sifat dan watak seseorang itu merupakan hasil interaksi antara pembawaan dan lingkungan orang itu. Jadi yang ditekankan di sini bukanlah pembawaan dan bukan pula lingkungan kulturalnya, melainkan interaksi dari keduannya.

2.6  Uraian Selanjutnya tentang Temperamen dan Watak
Sebenarnya sangat sukar bagi kita untuk membedakan antara pengertian watak dan kepribadian untuk pengertian yang sama. Namun demikian, para ahli psikologi umumnya berpendapat bahwa apa yang dimaksud dengan watak itu adalah merupakan aspek saja dari keseluruhan pribadi seseorang atau personality sesorang. Seperti pernah dikatakan di muka, watak atau karakter lebih ditekankan dalam hubungannya dengan moral dan norma-norma etis daripada dengan aspek-aspek kepribadian lainnya.
Penyelidikan tentang temperamen dan watak manusia telah dilakukan orang sejak dahulu kala. Kita mengenai Hippocrates dan Galenus (400 SM dan 175 SM) yang pernah mengemukakan bahwa manusia itu dapat dibagi menjadi 4 golongan, menurut keadaan zat-zat cair yang ada dalam tubuhnya. Empat golongan tersebut ialah :
a.      Sanguinisi (yang banyak darahnya), sifatnya periang, gembira, optimis, lekas berubah-ubag stemming-nya.
b.     Kolerisi (yang banyak empedu kuningnya), sifatnya garang, hebat, lekas marah, agresif.
c.      Flegmatisi (yang banyak lendirnya), sifatnya lamban, tenang, tidak mudah berubah.
d.     Melankolisi (banyak empedu hitamnya), sifatnya muram, tidak gembira, pesimistik.
Meskipun pembagian seperti tersebut tidak lama diterima orang dan sudah lama ditinggalkan, namun kita tetap menghargai jasa-jasa Hippocrates dan Galenus, yang telah menunjukkan adanya hubungan yang erat antara factor-faktor jasmaniah dengan sifat-sifat manusia. Kini kita masih mengenal istiah-istilah yang digunakan olehnya dipakau pula dalam ilmu-ilmu kedokteran, meskipun dalam pengertian yang agak berlainan.
Juga Kretschmer, seorang ahli penyakit jiwa bangsa Jerman, telah menunjukkan kepada kita adanya hubungan yang erat antara tipe-tipe tubuh seseorang dengan sifat-sifat dan wataknya. Ia membagi manusia menjadi 4 golongan menurut tipe atau bentuk tubuhnya masing-masing, yaitu :
a.      Atetis: tinggi, besar, otot kuat, kekar dan tegap, dada lebar.
b.     Astenis: tinggi, kurus, tidak kuat, bahu sempit, lengan dan kaki kecil.
c.      Piknis: bulat, gemuk, pendek, muka bulat, leher pejal.
d.     Displastis: merupakan bentuk tubuh campuran dati ketiga tipe di atas.
Menurut Kretschmer, orang yang berbentuk tubuh atletis dan astenis tipe wataknya disebut schizothim, yang mempunyai sifat-sifat antara lain: sukar bergaul, mempunyai kebiasaan yang tetap, sukar menyesuaikan diri dengan situasi-situasi yang baru, kelihatan sombong, egoistis dan bersifat ingin berkuasa, kadang – kadang optimis dan kadang-kadang pesimis, selalu berpikir dahulu masak-masak sebelum bertindak.
Sedangkan orang yan berbentuk tubuh piknis tipe wataknya disebut siklothim, dan mempunyai sifat-sifat antara lain: mudah bergaul, suka humor, mudah berubah-ubah stemming-nya, mudah menyesuaikan diri dengan situasi yang baru, kurang setia dan tidak konsekuen, lekas memanfaatkan kesalahan orang lain.
Di samping apa yang dikemukakan di atas, sebenarnya Kretschmer masih membagi lagi kedua tipe watak itu ke dalam beberapa golongan, dan setiap golongan memiliki sifat-sifat yang berlainan pula. Sesudah Kretschmer, masih banyak lagi ahli-ahli psikologi yang mencoba menyelidiki sifat-sifat dan watak-watak manusia berdasarkan tipe-tipe tubuhnya, atau kelenjar-kelenjar yang ada dalam tubuh manusia.
Spranger, seorang penganut Vertehende Psychologie dari Jerman, mencoba melakukan penyelidikan watak manusia dengan cara lain lagi. Ia mengadakan penggolongan tipe manusia berdasarkan sikap manusia itu terhadap nilai-nilai kebudayaan yang hidup di dalam masyarakat. Nilai-nilai kebudayaan itu dibaginya menjadi 6 golongan, yaitu: ekonomi, masyarakat, kenegaraan/politik, ilmu pengetahuan, kesenian, dan agama.
Dengan dasar itu maka ia membagi watak manusia menjadi 6 golongan pula, yakni:
a.      Manusia ekonomi, sifatnya: suka bekerja, mencari untung.
b.     Manusia social, sifatnya: suka mengabdi dan berkorban untuk orang lain.
c.      Manusia kuasa/politik, sifanya: suka menguasai orang-orang lain.
d.     Manusia teori, sifatnya: suka berpikir, berfilsafat, mengabdi kepada ilmu.
e.      Manusia seni, sifatnya: suka menikamati/mengenyam keindahan.
f.      Manusia agama, sifatnya: suka berbakti dan beribadah.
Perlu dikemukakan di sini, bahwa pembagian Spranger  tersebut hanyalah berdasarkan spekulatif saja, bukan berdasarkan observasi atau eksperimen yang benar-benar dilakukan terhadap kenyataan di dalam masyarakat.
Heymauns, seorang ahli psikologi bangsa Belanda, mencoba membuat pembagian watak manusia, berdasarkan sifat-sifat psikis yang menurut pendapatnya merupakan sifat-sifat pokok dari jiwa manusia.
Yang dimaksud dengan emosionalitas ialah kuat-lemahnya kerentanan perasaan; aktivitas ialah cepat-tidaknya seseorang bertindak; dan sekunder fungsi ialah lamanya sesorang terpengaruh/ menyimpan kesan-kesan did lam jiwanya, disebut berfungsi sekunder, sedangkan orang yang lekas melupakan kesan-kesan yang telah diterimanya, disebut berfungsi primer.
Selanjutnya, berdasarkan perbandingan dan komposisi dari intensitas (kuat-lemahnya) ketiga sifat psikis tersebut di atas,  Heymauns membagi watk manusia menjadi 8 tipe, seperti berikut:
a.      Gepassioneer (Berpassi), sifatnya: revolusioner dan hebat segalanya.
b.     Kholerikus sifatnya garang dan agresif.
c.      Sentimentil, sifatnya lekas merayu dan perasa.
d.     Nerveus, sifatnya gugup, mudah tersinggung, bingung.
e.      Flegmatikus, sifatnya tenang, tidak mudah berubah-ubah
f.      Sanguinicus, sifatnya gembira, lincah, optimistis.
g.     Apath, sifatnya apatis, manusia mesin.
h.     Amorph (amorf), sifatnya tidak berperangai, lemah, lembek.
Menurut Heymauns, kedua macam tipe yang terakhir itu jarang terdapat. Berlainan dengan Spranger yang mengadakan pembagian watak itu hanya berdasarkan pemikiran spekulatif, pembagian Heymauns tersebut berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukannya terhadap biografi orang-orang besar din dunia dari jaman dulu hingga sekarang.  Di samping itu dia juga menggunakan angket untuk menyelidiki keturunan (heredity), dan angket pubertas yang dimaksudkan untuk menyelidiki tipe-tipe watak anak-anak sekolah menengah yang sedang mengalami masa remaja.
Ewald, hampir sma dengan Heymauns, mengadakan pembagian watak manusia berdasarkan fungsi-fungsi psikis, yakni 4 asas pokok dari kesanggupan jiwa:
a.      Kesanggupan menerima kesan (Eindruchstahigkeit)
b.     Kesanggupan menyimpan kesan-kesan (Retentionsfahigkeit)
c.      Kesanggupan mengolah kesan-kesan (Intrapsychische Activiteit)
d.     Kesanggupan mengubah yang telah diolah menjadi perbuatan (Leitfahigkeit)
Berdasarkan kuat atau lemahnya kesanggupan-kesanggupan jiwa tersebut di atas, selanjutnya Ewald membagi watak manusia menjadi 16 macam tipe. Di samping itu Ewald juga memasukkan insting dan nafsu-nafsu (triebe) ke dalam pembagian watak yang dibuatnya. Ia berpendapat bahwa kuat atau lemahnya insting dan nafsu-nafsu yang ada pada seseorang turut mempengaruhi perbuatan dan tingkah laku orang itu.
Jung, seorangahli penyakit jiwa dari Swiss, membuat pembagian tipe-tipe manusia dengan cara yang lain lagi. Ia adlah seorang murid dari Freud, ahli Diepte Psychologie. Aliran psikologinya disebut Analytische Psychologie. Oleh karena itu pada tipologi yang disusunnya, ketidak-sadaran (onbewustzjin) memegang peranan yang penting.
Yang menjadi dasar tipologi Jung ialah arah perhatian manusia. Ia mengatakan bahwa perhatian manusia itu tertuju kepada dua arah, yakni ke luar dirinya yang disebut extrovert, dan ke dalam dirinya yang disebut introvert. Kemana arah perhatian manusia itu yang terkuat keluar atau ke dalam dirinya itulah yang menentukan tipe orang itu. Demikian menurut Jung tipe manusia itu dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yakni:
a.      Tipe extrovert, orang-orang yang perhatiannya lebih diarahkan keluar dirinya, kepada orang-orang lain, kepada masyarakat.
b.     Tipe introvert, orang-orang yang perhatiannya lebih mengarah kepada dirinya, kepada “aku”nya.
Bagaimana sifat-sifat orang yang termasuk ke dalm golongan-golongan tersebut? Orang yang tergolon tipe extrovert mempunyai sifat-sifat: berhati terbuka, lanar dalam pergaulan, ramah-tamah, penggembira, kontak dengan lingkungan besar sekali. Mereka mudah mempengaruhi dan mudah pula dipengaruhi oleh lingkungannya.
Sedangkan orang-orang yang tergolong tipe introvert memiliki sifat-sifat: kurang pandai bergaul, pendiam, sukar diselami batinnya, suka menyendiri, bahkan sering takut kepada orang.
Crow and Crow menguraikan lebih terperinci lagi sifat-sifat dari kedua golongan tipe tersebut, sbagai berikut:
Extrovert
Introvert
a.      Lancar dalam berbicara
a.      Lebih lancar menulis daripada berbicara
b.     Babas dari kekhawatiran/kecemasan
b.     Cenderung/sering diliputi kekhawatiran
c.      Tidak lekas malu dan tidak canggung
c.      Lekas malu dan canggung
d.     Umumnya bersifat konservatis
d.     Cenderung bersifat radikal
e.      Mempunyai minat pada atletik
e.      Suka membaca buku-buku dan majalah
f.      Dipengaruhi oleh data obyektif
f.      Lebih dipengaruhi oleh perasaan-perasaan subyektif
g.     Ramah dan suka berteman
g.     Agak tertutup jiwanya
h.     Suka bekerja bersama orang-orang lain
h.     Menyukai bekerja sendiri
i.       Kurang memperdulikan penderitaan dan milik sendiri
i.       Sangat menjaga/berhati-hati terhadap penderitaan dan miliknya
j.       Mudah menyesuaikan diri dan luwe (fleksibel)
j.       Sukar menyesuaikan diri dan kaku dalam pergaulan

Perbedaan pokok dari kedua tipe itu kadang-kadang nyata kelihatan, kadang-kadang tidak. Di samping orang-orang yang benar-benar terlihat adanya sifat-sifat yang menunjukkan tipe extrovert atau introvert, adapula orang-orang yang menunjukkan adanya sifat campuran/gabungan dari kedua tipe tersebut. Bukan mungkin banyak dikatakan bahwa kebanyakan orang termasuk kedalam tipe campuran itu. Oleh karena itu di samping adanya dua tipe tersebut, sebaiknya ditambah lagi denagn tipe ambivert yang berarti tipe campuran antara extrovert dan introvert.
Pendidikan, lingkungan, jenis kelamin dan umur, tidak berpengaruh kepada terjadinya tipe-tipe tersebut. Kita dapatmenjumpai adanya tipe-tipe itu pada semua lapisan masyarakat: tua-muda, pria-wanita, kaya-miskin, dan sebagainya. Jadi sikap kedua tipe tersebut terhadap dunia luar bukanlah sikap yang diambil dengan sadar dan sengaja. Sikap-sikap demikian menurut Jung adalah sikap yang tak sadar dan instingtif.
Ke dalam tipe (extrovert dan introvert) itu dimasukkannya pula 4 fungsi psikis yang menurut pendapatnya sangat mempengaruhi tindakan manusia, yaitu: perasaan, pikiran, intuisi, dan penginderaan. Sehingga dengan kedua tipe di atas, sebenarnya Jung telah membagi tipe manusia itu menjadi 8 tipe. Jika seseorang arah perhatiannya ditujukan ke luar dirinya dan yang memegang peranan dalam perhatiannya itu adalah perasaannya, maka orang semacam itu menurut pembagia Jung termasuk tipe extrovert-perasaan. Dan orang yang introvert tetapi lebih dikuasai oleh pikirannya, maka orang itu bertipe introvert-pikiran. Demikianlah seterusnya, sehingga kita dapat memperoleh 8 tipe manusia:
a.      Extrovert-pikiran
b.     Extrovert-perasaan
c.      Extrovert-intuisi
d.     Extrovert-penginderaan
e.      Introvert-pikiran
f.      Introvert-perasaan
g.     Introvert-intuisi
h.     Introvert-penginderaan
2.7  Definisi Kepribadian (Personality)
Menurut asal-katanya, kepribadian atau personality berasal dari bahasa Latin personare, yang berarti mengeluarkan suara (to sound through). Istilah ini digunakan untuk menunjukkan suara dari percakapan seorang pemain sandiwara melalui topeng (masker) yang dipakainya. Pada mulanya istilah persona berarti topeng yang dipakai oleh pemain sandiwara, dimana suara pemain sandiwara itu diproyeksikan. Kemudian kata persona itu berarti pemain sandiwara itu sendiri.
Dari sejarah pengertian kata tersebut, tidak heran kita jika kata persona yang mula-mula berarti topeng, kemudian diartikan pemainnya itu sendiri (orangnya) yang memainkan peranan seperti digambarkan dalam topeng tersebut. Akhirnya kata persona itu menunjukkan pengertian tentang kualitas dari watak/karakter yang dimainkan di dalam sandiwara itu. Kini kata personality oleh para ahli psikologi dipakai untuk menunjukkan sesuatau yang nyata dan dapat dipercaya tentang individu; untuk menggambarkan bagaimana dan apa sebenarnya individu itu.
Sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Sartain, istilah personality terutama menunjukkan suatu organisasi/susunan daripada sifat-sifat dan aspek-aspek tingkah laku lainnya yang saling berhubungan di dalam suatu individu. Sifat-sifat dan aspek-aspek ini bersifat psiko-fisik yang menyebabkan individu berbuat dan bertindak seperti apa yang dia lakukan, dan menunjukkan adanya ciri-ciri khas yang membedakan individu yang lain. Termasuk di dalamnya: sikapnya, kepercayaannya, nilai-nilai dan cita-citanya, pengetahuan dan keterampilannya, macam-macam cara gerak tubuhnya, dan sebagainya.
Kepribadian itu relatif stabil. Pengertian stabil di sini bukan berarti bahwa kepribadian itu tetap dan tidak berubah. Di dalam kehidupan manusia dari kecil sampai dewasa/tua, kepribadian itu selalu berkembang, dan mengalami perubahan-perubahan. Tetapi di dalam perubahan itu terlihat adanya pola-pola tertentu yang tetap. Makin dewasa orang itu, makin jelas polanya, makin jelad adanya stabilitas.
Tetapi apa yang dikatakan oleh Ahmad Musa, sebagai berikut: “Alangkah sulitnya bergaul dengan sesama manusia, andaikata kepribadian orang tidak memperlihatkan stabilitas, artinya berubah terus. Akibatnya akan sukar bagi kita untuk menduga, atau meramalkan, apa reaksi manusia itu pada suatu ketika. Jika kemarin ia benar-benar memperlihatkan keihlasannya membantu, maka hari ini belum tentu.
Menurut Wikipedia, kepribadian adalah keseluruhan cara seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa diukur yang ditunjukkan oleh seseorang.
Kepribadian mengandung pengertian yang sangat kompleks. Berkali-kali dikatakan dalam uraian terdahulu, bahwa kepribadian itu mencakup berbagai aspek dan sifat-sifat fisis maupun psikis dari seorang individu. Oleh karena itu sukar bagi kita juga bagi para ahli psikologi untuk merumuskan batasan/definisi tentang kepribadian secara tepat, jelas dan mudah dimengerti. Betapa sulitnya merumuskan arti kepribadian itu, Crow and Crow menunjukkan kepada kita bagaimana ahli-ahli psikologi itu membuat rumusan menurut caranya masing-masing, seperti terlihat pada kutipan berikut:
1)          “Personality is that which makes one effective, or gives one influence over others. In the language of psychology it is one’s social stimulate value.” (M.A. May).
2)          “A man’s personality is the total picture of his organized behavior, especially as it can be characterized by his low man in consistant way.” (J.F. Dashiell).
3)          “Our personality is thus the result of what we start with and what we have lived through. It is the ‘reaction mass’ as a whole.” (J.B. Watson).
4)          “. . . Integrated organization of  all the pervasive characteristic of an individual as it manifests itself in focal distinctness to others is the phenomenon of personality.” (G.W. Hartman).
5)            “Personality is the dynamic organization within the individual of those psychophysical system that determine his unique adjustments to his environtment.” (G.W. Allport).
6)           “Personality . . . is synonymous with the idea of organismic functioning of the total individual, including all his various verbally separated aspects, such as intellect, character, drive, emotionalized attitudes, interests, sociability, and personal appearance as well as his general social effectiveness.” (L.P. Thorpe).
Meskipun kita lihat adanya perbedaan-perbadaan dalam cara mengemukakan atau merumuskan personality seperti tersebut di atas, namun di dalamnya kita dapat melihat adanya persamaan-persamaan atau persesuaian pendapat satu sama lain. Di antaranya ialah, bahwa kepribadian atau personality itu dinamis, tidak stati atau tetap saja tanpa perubahan. Ia menunjukkan tingkah laku yang terintegrasi dan nerupakan interaksi antara kesanggupan-kesanggupan bawaan yang ada pada individu dengan lingkungannya. Ia bersifat psikofisik, yang berarti baik factor jasmaniah maupun rohaniah individu itu bersama-sama memegang peranan dalam kepribadian. Ia juga bersifat unik; artinya kepribadian seseorang sifatnya khas, mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dari individu yang lain.
2.8    Aspek-aspek Kepribadian
Telah dikatakan bahawa kepribadian itu mengandung pengertian yang kompleks. Ia terdiri dari bermacam-macam aspek, baik fisik maupun psikis. Meskipun telah banyak disinggung dalam uraian-uraian terdahulu, secara lebih terperinci ada baiknya kita uraikan beberapa aspek kepribadian yang penting berhubungan dengan pendidikan, dalam rangka pembentukan pribadi anak-anak didik.
a.      Sifat-sifat kepribadian (personality traits)
Seperti telah dikemukakan dalam pasal-pasal yang lalu, yaitu sifat-sifat yang ada pada individu seperti antara lain: penakut, pemarah, suka bergaul, peramah, suka menyendiri, sombomg, dan lain-lain. Pendeknya sifat-sifat yang merupakan kecenderungan- kecenderungan umum pada seorang individu untuk menilai situasi-situasi dengan cara-cara tertentu dan bertindak sesuai dengan penilaian itu.
b.     Intelejensi
Kecerdasan atau intelejensi juga merupakan aspek kepribadian yang penting. Termasuk di dalamnya kewaspadaan, kemampuan belajar, kecepatan berpikir; kesanggupan untuk mengambil keputusan yang tepat, kepandaian menangkap dan mengolah kesan-kesan atau masalah, dan kemampuan mengambil kesimpulan.
c.      Pernyataan diri dan cara menerima kesan-kesan. (Appearance and Impression).
Termasuk ke dalam aspek ini antara lain ialah: kejujuran, berterus terang, menyelimuti diri, pendendam, tidak dapat menyimpan rahasia, mudah melupakan kesan-kesan, dan lain-lain.
d.     Kesehatan
Kesehatan jasmaniah atau bagaimana kondisi fisik sangat erat hubungannya dengan kepribadian seseorang.
e.      Bentuk tubuh
Termasuk besarnya, beratnya, dan tingginya. Bentuk tubuh seseorang berhubungan erat dengan appearance-nya, meskipun mungkin dua orang yang berbentuk tubuh sama berbeda dalam appearance-nya. Namun demikian bentuk merupakan faktor yang penting dalam kepribadian seseorang.
f.      Sikapnya terhadap orang lain
Tentang sikap juga telah dibicarakan dalam permulaan bab ini. Sikap seseorang terhadap orang lain tidak terlepas dari sikap orang itu terhadap dirinya sendiri. Bermacam-macam  sikap yang ada pada seseorang turut menentukan kepribadiannya.
g.     Pengetahuan
Kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dimiliki seseorang, dan jenis pengetahauan apa yang lebih dikuasainya, semua itu turut menentukan kepribadiaanya. Pengetahuan yang dimilikibseseorang memainkan peranan penting di dalam pekerjaan/jabatannya, cara-cara penerimaan dan penyesuaian sosialnya, pergaulannya, dan sebagainya.
h.     Keterampilan (Skills)
Keterampilan seseorang dalam mengerjakan sesuatu, sangat mempengaruhi bagaimana cara orang itu bereaksi terhadap situasi-situasi tertentu. Termasuk di dalam keterampilan ini antara lain: kepandaiannya dalam atletik, kecakapan mengemudi mobil atau kendaraan-kendaraan bermotor lainnya, kecekatan dalam mengerjakan/membuat pekerjaan-pekerjaan tangan, seperti tukang kayu, tukang batu, dan lain-lain.
i.       Nilai-nilai (Values)
Bagaimana pandangan dan keyakinan seseorang tehadap nilai-nilai atau ide-ide turut pula menentukan kepribadiannya. Nilai-nilai yang ada pada seseorang dipengaruhi oleh adat istiadat, etika, kepercayaan dan agama yang dianutnya. Semua itu mempengaruhi sikap, pendapat dan pandangan kita, yang selanjutna tercermin dalam cara-cara kita bertindak dan bertingkah laku.
j.       Penguasaan dan kuat-lemahnya perasaan
Ada orang pandai menguasai perasaan yang timbul dalam dirinya, ada yang tidak. Ada orang yang pemarah dan ada pula yang sabar. Seseorang mudah merasa tersinggung, yang lain tidak. Demikian pula intensitas atau kuat-lemahnya perasaan tidak sama pada tiap orang. Keadaan perasaan yang berbeda-beda pada tiap individu sangat mempengaruhi kepribadiannya. Apa yang telah dibicarakan dalam pasal yang lalu tentang temperamen, pembagian tipe watak dari Heymans, dan juga tentang frustasi sangat erat hubungannya dengan masalah ini.
k.     Peranan (Roles)
Yang dimaksud dengan peranan di sini ialah kedudukan atau posisi seseorang di dalam masyarakat di mana ia hidup. Termasuk dalam peranan ini ialah tempat dan jabatannya, macam pekerjaannya, dan tinggi-rendahnya kedudukan itu.kedudukan seseorang dalam masyarakat menentukan tugas kewajiban dan tanggung jawabnya, yang selanjutnya menentukan sikap dan tingkah lakunya. Sartain mengatakan tentang hal ini sebagai berikut: “A role is the set of behavior that typical of occupants of a position. People have norms standards of behavior – for roles and also expectations regarding how people in a position will be have.” Tidak disangsikan lagi bahwa peranan (roles) turut menentukan kepribadian seseorang. Seorang dokter akan berlainan sikap dan tindakannya dengan seorang alim-ulama misalnya. Demikian pula seorang guru/pendidik tidak akan sama tindakan dan perbuatannya dengan seorang angkatan  bersenjata.
l.       The Self
Apa yang telah kita bicarakan dalam bab yang baru lalu tentang the self , sangat erat hubungannya dengan kepribadian. The self merupakan aspek kepribadian yang sangat penting. The self adalah “individu sebagaimana diketahui dan dirasakan  oleh individu itu sendiri”. Ia terdiri dari self-picture, yaitu aspek-aspek yang disadari dari pandangan individu tentang dirinya sendiri, dan kepercayaan serta perasaan individu tentang dirinya sendiri yang tidak disadari. Dengan kata lain: the self adalah anggapan dan perasaan individu tentang siapa, apa, dan di mana sebenarnya dia berada.
Sedangkan kepribadian – seperti telah diuraikan – ialah organisasi sistem-sistem psiko-fisik individu yang menentukan cara-cara penyesuaian dirinya yang unik terhadap lingkungannya. Dengan membandingkan kedua pengertian tersebut – kepribadian dan the self – menjadi jelas bahwa kepribadian itu mencakup the self. Kepribadian/personality tidak hanya mencakup apa yang dipikirkan dan dirasakan individu  tentang dirinya, tetapi juga tingkah lakunya  dan kecenderungan-kecenderungannya terhadap sesuatu, baik yang menjadi bagian daripada dirinya maupun yang tidak.

2.9 Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian adalah sebagai berikut :
1.       Faktor Internal    
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri orang itu sendiri. Faktor internal ini biasanya merupakan faktor genetis atau bawaan. Faktor genetis berupa bawaan sejak lahir dan merupakan pengaruh keturunan dari salah satu sifat yang dimiliki salah satu dari kedua orang tuanya atau bisa jadi kombinasi dari sifat kedua orang tuanya. Faktor genetis lain seperti keadaan jasmani manusia yang meliputi keadaan organ-organ tubuh, peredaran darah, bentuk tubuh dan lain-lain.
Setiap manusia dilahirkan dengan keadaan jasmani yang berbeda. Hal tersebut menunjukkan bahwa sifat-sifat jasmani yang ada pada setiap orang merupakan keturunan atau pembawaan anak/orang itu sendiri. Keadaan jasmani yang berlainan menyebabkan sikap dan sifat serta tempramen yang berbeda.
2.       Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar orang tersebut. Faktor eksternal biasanya merupakan pengaruh yang berasal dari lingkungan sesorang mulai dari lingkungan terkecilnya, yakni keluarga, teman, tetangga hingga pengaruh dari berbagai media seperti TV, internet, media cetak dan lain sebagainya.
a.    Keluarga
Faktor eksternal yang pertama adalah keluarga. Lingkungan keluarga sangat mempengaruhi kepribadian anak. Terutama dari cara orang tua dalam mendidik anak. Misalnya saja, orang tua sering menyuruh anak-anaknya untuk bilang kepada orang yang mencari ayah/ibu bahwa mereka sedang tidak keluar rumah karena ayah/ibu akan tidur. Peristiwa tersebut adalah suatu pendidikan kepada anak bahwa berbohong boleh atau dihalalkan. Akibatnya, anak juga melakukan perilaku bohong kepada orang lain termasuk kepada orang tua yang telah mencontohinya. Karena anak melakukan proses imitasi dari orang tuanya.
Ada Sembilan tipe kepribadian orang tua dalam membesarkan anaknya yang juga dapat berpengaruh pada kepribadian anak, yaitu sebagai berikut.
1.   Penasihat moral, terlalu menekankan pada perincian, analisis dan moral.
2.   Penolong terlalu mengutamakan kebutuhan anak dengan mengabaikan akibat dari tindakan anak.
3.   Pengatur, selalu ingin bekerja sama dengan si anak dan menciptakan tugas-tugas yang akan membantu memperbaiki keadaan.
4.   Pemimpi, selalu berupaya untuk berhubungan secara emosional dengan anak-anak dalam setiap keadaan dan mencari solusi kreatif bersama-sama.
5.   Pengamat, selalu mencari sudut pandang yang menyeluruh, berupaya mengutamakan objektivitas.
6.   Pencemas, selalu melakukan tanya jawab mental dan terus bertanya-tanya, ragu-ragu dan memiliki gambaran terburuk sampai mereka yakin bahwa anak mereka benar-benar memahami situasi.
7.   Penghibur, selalu menerapkan gaya yang lebih santai.
8.   Pelindung, cenderung untuk mengambil alih tanggung jawab dan bersikap melindungi.
9.   Pendamai, dipengaruhi kepribadian mereka yang selalu menghindar dari konflik.
Keadaan dan suasana keluarga yang berlainan, memberikan pengaruh yang bermacam-macam pula terhadap perkembangan pribadi anak. Keluarga yang besar (banyak anggota keluarganya) berlainan pengaruhnya dengan keluarga yang kecil. Keluarga yang lebih berpendidikan lain pula pengaruhnya dengan keluarga yang kurang berpendidikan.
Pengaruh lingkungan keluarga terhadap perkembangan anak sejak kecil adalah sangat mendalam dan menentukan perkembangan pribadi anak selanjutnya. Hal ini disebabkan karena :
a.    Pengaruh itu merupakan pengalaman yang pertama.
b.   Pengaruh yang diterima anak masih terbatas jumlah dan luasnya.
c.    Intensitas pengaruh tinggi karena berlangsung secara terus menerus dari siang hingga malam.
d.   Umumnya pengaruh diterima dalam suasana aman dan bersifat intim dan bernada emosional.
b.   Budaya
Perkembangan dan pembentukan kepribadian pada diri masing- masing orang tidak dapat dipisahkan dari  kebudayaan masyarakat di mana seseorang itu dibesarkan. Beberapa  aspek kebudayaan  yang sangat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan kepribadian antara lain:
·       Nilai-nilai (Values)
Di dalam setiap kebudayaan terdapat nilai-nilai hidup yang dijunjung tinggi oleh manusia-manusia yang hidup dalam kebudayaan itu. Untuk dapat diterima sebagai anggota suatu masyarakat, kita harus memiliki kepribadian yang selaras dengan kebudayaan yang berlaku di masyarakat itu. Misalnya saja mereka yang tinggal di kawasan agamis, mereka tidak boleh membunyikan suara yang keras jika tetangga sedang melakukan ibadah.
·       Adat dan Tradisi.
Adat dan tradisi yang berlaku di suatu daerah, di samping menentukan nilai-nilai yang harus ditaati oleh anggota-anggotanya, juga menentukan pula cara-cara bertindak dan bertingkah laku yang akan berdampak pada kepribadian seseorang. Misalnya pada adat Jawa, jika sedang berbicara dengan orang yang lebih tua harus sopan dan menggunakan bahasa krama inggil, jika melewati orang yang lebih tua maka harus membungkuk.
·       Pengetahuan dan Keterampilan.
Tinggi rendahnya pengetahuan dan keterampilan seseorang atau suatu masyarakat mencerminkan pula tinggi rendahnya kebudayaan masyarakat itu. Makin tinggi kebudayaan suatu masyarakat makin berkembang pula sikap hidup dan cara-cara kehidupannya. Misalnya orang yang mempunyai pengetahuan yang lebih memiliki sifat rendah hati atau malah sombong.
·       Bahasa
Di samping faktor-faktor kebudayaan yang telah diuraikan di atas, bahasa merupakan salah satu faktor yang turut menentukan ciri-ciri khas dari suatu kebudayaan. Betapa erat hubungan bahasa dengan kepribadian manusia yang memiliki bahasa itu.  Karena bahasa merupakan alat komunikasi dan alat berpikir yang dapat menunjukkan bagaimana seseorang itu bersikap, bertindak dan bereaksi serta bergaul dengan orang lain. Misalnya anak yang selalu menggunakan kata-kata kotor sudah pasti kepribadiannya juga buruk.
·       Milik Kebendaan (material possessions)
Semakin maju kebudayaan suatu masyarakat atau bangsa, makin maju dan modern pula alat-alat yang dipergunakan bagi keperluan hidupnya. Hal itu semua sangat mempengaruhi kepribadian manusia yang memiliki kebudayaan itu. Misalnya sifat konsumtif yang sekarang sedang rawan terjadi.
2.10     Kepribadian yang sehat
  1. Mampu menilai diri sendiri secara realisitik; mampu menilai diri apa adanya tentang kelebihan dan kekurangannya, secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
  2. Mampu menilai situasi secara realistik; dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistik dan mau menerima secara wajar, tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.
  3. Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik; dapat menilai keberhasilan yang diperolehnya dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami superiority complex, apabila memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustrasi, tetapi dengan sikap optimistik.
  4. Menerima tanggung jawab; dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
  5. Kemandirian; memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
  6. Dapat mengontrol emosi; merasa nyaman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif , tidak destruktif (merusak)
  7. Berorientasi tujuan; dapat merumuskan tujuan-tujuan dalam setiap aktivitas dan kehidupannya berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar, dan berupaya mencapai tujuan dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan), pengetahuan dan keterampilan.
  8. Berorientasi keluar (ekstrovert); bersifat respek, empati terhadap orang lain, memiliki kepedulian terhadap situasi atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berfikir, menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya, merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain, tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan mengorbankan orang lain, karena kekecewaan dirinya.
  9. Penerimaan sosial; mau berpartsipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
  10. Memiliki filsafat hidup; mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari keyakinan agama yang dianutnya.
  11. Berbahagia; situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan, yang didukung oleh faktor-faktor achievement (prestasi), acceptance (penerimaan), dan affection (kasih sayang).

2.11     Kepribadian yang tidak sehat
  1. Mudah marah (tersinggung)
  2. Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan
  3. Sering merasa tertekan (stress atau depresi)
  4. Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya lebih muda atau terhadap binatang
  5. Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau dihukum
  6. Kebiasaan berbohong
  7. Hiperaktif
  8. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
  9. Senang mengkritik/mencemooh orang lain
  10. Sulit tidur
  11. Kurang memiliki rasa tanggung jawab
  12. Sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebabnya bukan faktor yang bersifat organis)
  13. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama
  14. Pesimis dalam menghadapi kehidupan
  15. Kurang bergairah (bermuram durja) dalam menjalani kehidupan

2.12         Sifat kepribadian utama yang mempengaruhi perilaku organisasi

a.      Evaluasi inti diri

Evaluasi inti diri adalah tingkat di mana individu menyukai atau tidak menyukai diri mereka sendiri, apakah mereka menganggap diri mereka cakap dan efektif, dan apakah mereka merasa memegang kendali atau tidak berdaya atas lingkungan mereka. Evaluasi inti diri seorang individu ditentukan oleh dua elemen utama: harga diri dan lokus kendali. Harga diri didefinisikan sebagai tingkat menyukai diri sendiri dan tingkat sampai mana individu menganggap diri mereka berharga atau tidak berharga sebagai seorang manusia.

b.     Machiavellianisme

Machiavellianisme adalah tingkat di mana seorang individu pragmatis, mempertahankan jarak emosional, dan yakin bahwa hasil lebih penting daripada proses. Karakteristik kepribadian Machiavellianisme berasal dari nama Niccolo Machiavelli, penulis pada abad keenam belas yang menulis tentang cara mendapatkan dan menggunakan kekuasaan.

c.      Narsisisme

Narsisisme adalah kecenderungan menjadi arogan, mempunyai rasa kepentingan diri yang berlebihan, membutuhkan pengakuan berlebih, dan mengutamakan diri sendiri. Sebuah penelitian mengungkap bahwa ketika individu narsisis berpikir mereka adalah pemimpin yang lebih baik bila dibandingkan dengan rekan-rekan mereka, atasan mereka sebenarnya menilai mereka sebagai pemimpin yang lebih buruk. Individu narsisis seringkali ingin mendapatkan pengakuan dari individu lain dan penguatan atas keunggulan mereka sehingga individu narsisis cenderung memandang rendah dnegan berbicara kasar kepada individu yang mengancam mereka. Individu narsisis juga cenderung egois dan eksploitif, dan acap kali memanfaatkan sikap yang dimiliki individu lain untuk keuntungannya.

d.     Pemantauan diri

Pemantauan diri adalah kemampuan seseorang untuk menyesuaikan perilakunya dengan faktor situasional eksternal. Individu dengan tingkat pemantauan diri yang tinggi menunjukkan kemampuan yang sangat baik dalam menyesuaikan perilaku dengan faktor-faktor situasional eksternal. Bukti menunjukkan bahwa individu dengan tingkat pemantauan diri yang tinggi cenderung lebih memerhatikan perilaku individu lain dan pandai menyesuaikan diri bila dibandingkan dengan individu yang memiliki tingkat pemantauan diri yang rendah.

e.      Kepribadian tipe A

Kepribadian tipe A adalah keterlibatan secara agresif dalam perjuangan terus-menerus untuk mencapai lebih banyak dalam waktu yang lebih sedikit dan melawan upaya-upaya yang menentang dari orang atau hal lain. Dalam kultur Amerika Utara, karakteristik ini cenderung dihargai dan dikaitkan secara positif dengan ambisi dan perolehan barang-barang material yang berhasil. Karakteristik tipe A adalah:
·     selalu bergerak, berjalan, dan makan cepat;
·     merasa tidak sabaran;
·     berusaha keras untuk melakukan atau memikirkan dua hal pada saat yang bersamaan;
·     tidak dapat menikmati waktu luang;
·     terobsesi dengan angka-angka, mengukur keberhasilan dalam bentuk jumlah hal yang bisa mereka peroleh.

f.      Kepribadian proaktif

Kepribadian proaktif adalah sikap yang cenderung oportunis, berinisiatif, berani bertindak, dan tekun hingga berhasil mencapai perubahan yang berarti. Pribadi proaktif menciptakan perubahan positif daalam lingkungan tanpa memedulikan batasan atau halangan.





BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sikap adalah suatu cara bereaksi terhadap perangsang. Sifat berarti ciri-ciri tingkah laku yang tetap (hampir sama) pada seseorang. Temperamen adalah sifat-sifat jiwa yang sangat erat hubungannya dengan konstitusi tubuh. Yang dimaksud dengan konstitusi tubuh di sini adalah keadaan jasmani seseorang yang terlihat dalam hal-hal yang khas baginya, seperti keadaan darah, pekerjaan kelenjar, pencernaan, pusat saraf, dan lain-lain. sikap, sifat dan temperamen adalah termasuk ke dalam watak. Jadi ketiganya merupakan komponen-komponen watak. Dengan demikian, watak atau karakter mengandung pengertian yang lebih luas, mencakup di dalamnya pengertian sikap, sifat-sifat dan temperamen.
Kepribadian adalah keseluruhan cara seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. Ada dua faktor yang mempengaruhi kepribadian yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Selain itu beberapa aspek kepribadian juga turut andil seperti bentuk tubuh, kesehatan dan nilai-nilai. Namun dalam kehidupan sehari-hari tak semua bentuk kepribadian itu sama, ada yang kepribadian sehat dan tidak sehat.
3.2 Saran
Untuk pembaca kami harap mempelajari mengenai watak, sikap, tempramen, sifat dan kepribadian agar bisa memperlakukan orang lain dengan semestinya sesuai dengan ciri khasnya.






DAFTAR PUSTAKA
Purwanto, Ngalim. 2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Remaja Rosdakarya.
Sjarkawi. 2011. PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK : Peran Moral Intelektual, Emosional, dan Sosial Sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri. Jakarta : Bumi Aksara.
Anonym. 2011. (online), (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26923/4/Chapter%20II.pdf), diakses 10 november 2013.
Anonym. 2013. Kepribadian, (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Kepribadian), diakses 25 November 2013.

1 comment: