Thursday, 20 February 2014

bahan ajar perkembangan sosioemosional



BAHASAN 8
PERKEMBANGAN SOSIOEMOSIONAL

T U J U A N
Setelah mempelajari perkembangan sosioemosional, pembaca diharapkan dapat :
1.      Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosioemosional.
2.      Mengidentifikasi masalah-masalah yang dapat terjadi dalam perkembangan sosioemosional.

M A T E R I
1.      Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Sosio Emosional
a.       Perlakuan dan Cara Pengasuhan Orang Tua
Anak-anak tumbuh dewasa dalam keluarga yang beragam. Setiap keluarga mempunyai pola asuh yang bebeda-beda dalam mengasuh anaknya. Gaya pengasuhan orang tua sangat berpengaruh terhadap pembentukan sosioemosional anak. Baumrind mengatakan bahwa ada empat bentuk utama gaya pengasuhan orang tua yaitu :
·         Authoritarian
Orang tua berlaku sangat ketat dan mengontrol anak dengan mengajarkan standar dan tingkah laku. Pola asuh ini mengakibatkan kurangnya hubungan yang hangat dan komunikatif dalam keluarga. Anak dari pola asuh ini cenderung moody, murung, ketakutan, sedih, menggambarkan kecemasan dan rasa tidak aman dalam berhubungan dengan lingkungannya.
·         Authoritative
Orang tua memiliki batasan dan harapan yang jelas terhadap tingkah laku anak, mereka  berusaha untuk menyediakan paduan dengan menggunakan alasan dan aturan dengan reward dan punishment yang berhubungan dengan tingkah laku anak secara jelas. Orang tua sangat menyadari tanggung jawab mereka sebagai figur yang otoritas, tetapi mereka juga tanggap terhadap kebutuhan dan kemampuan anak. Pola asuh ini dapat menjadikan sebuah keluarga hangat, mendorong anak untuk berperan serta dalam mengambil keputusan di dalam keluarga.
·         Permissive
Orang tua cenderung mendorong anak untuk bersikap otonomi, mendidik anak berdasarkan logika dan memberi kebebasan pada anak untuk menentukan tingkah laku dan kegiatannya. Anak dengan pola asuh ini cenderung tidak dapat mengontrol diri, tidak mau patuh, tidak terlibat dengan aktivitas di lingkungan sekitarnya.
·         Pola Asuh tidak Terlibat
Orang tua sama sekali tidak melakukan kontrol pada anak, hanya memberikan materi, cenderung untuk lebih memperhatikan dan mementingkan kebutuhan dirinya sendiri dengan menunjukkan sedikit perhatian kepada anaknya. Anak dengan pola asuh ini akan memiliki keterbatasan dalam akademis dan sosial.
b.      Perlakuan guru di sekolah
Perlakuan guru terhadap anak memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan sosioemosional anak. Pengaruh guru tidak hanya pada aspek kognitif anak, tetapi juga segenap perilaku dan pribadi yang ditampilkan guru di depan anak didiknya, karena secara langsung hal tersebut bisa menjadi pengalaman-pengalaman anak.
c.       Relasi Teman Sebaya
Interaksi teman sebaya yang memiliki usia yang sama memainkan peran khusus dalam perkembangan sosioemosional anak. Anak yang sering memiliki pengalaman positif satu sama lain akan lebih mungkin untuk menjadi sahabat (Rubin et al.,1998;Synder et al.,1996). Salah satu fungsi yang paling penting dari teman sebaya adalah untuk memberikan sumber informasi dan perbandingan tentang dunia di luar keluarga.
d.      Permainan
Dalam suatu studi klasik tentang prasekolah, Mildred Parten (1932) mengidentifikasi empat kategori permainan yang mencerminkan peningkatan tingkat interaksi dan kecanggihan sosial. Berikut adalah beberapa jenis permainan :
·         Bermain sendirian (solitary play) merupakan permainan yang dilakukan sendirian, sering dengan mainan, dan tidak bergantung pada apa yang sedang dilakukan peserta didik-peserta didik lain.
·         Permainan Paralel (parallel play) termasuk melibatkan peserta didik-peserta didik dalam kegiatan yang sama dan dilakukan saling berdampingan namun dengan amat sedikit intervensi atau saling mempengaruhi.
·         Permainan associative (associative play) banyak kemiripannya dengan permainan parallel namun dengan penambahan tingkat-tingkat interaksi dalam bentuk keberbagian, penggiliran, dan kesamaan minat dengan teman sepermainan.
·         Permainan Kooperatif (cooperative play) terjadi apabila peserta didik-peserta didik bergabung menjadi satu untuk mencapai suatu tujuan bersama, sebagai misal membangun sebuah istana besar dan yang dibuat tiap peserta didik merupakan bagian dari seluruh bangunan istana itu.
e.       Gender
Peran gender adalah sekumpulan perilaku minat, sikap, keahlian, dan trait kepribadian yang dianggap sesuai oleh sebuah budaya terhadap laki-laki atau perempuan. Pada usia kurang lebih 2 tahun, anak menggunakan istilah yang berkaitan dengan gender seperti "anak laki-laki, anak perempuan, ayah, ibu", dan cenderung menunjukkan kesenangannya pada mainan yang sesuai dengan jenis kelaminnya.

2.      Masalah –Masalah dalam Perkembangan Sosio-Emosional  
a)      Depresi
Depresi adalah gangguan mood di mana seseorang merasa tidak bahagia, tidak bersemangat. memandang rendah diri sendiri, dan merasa sangat bosan.
·         Depresi pada Masa Kanak-kanak
Pada masa kanak-kanak perilaku yang berhubungan dengan depresi sering kali lebih luas jika dibandingkan dengan orang dewasa, hal ini rnenyebabkan diagnosis menjadi lebih sulit (Weiner, 1980). Banyak dari anak yang depresi menunjukkan agresi, kecemasan. prestasi yang buruk di sekolah, perilaku antisosial, dan juga hubungan yang buruk dengan teman sebaya. Beberapa penyebabnya, seperti: Biologis, kognitif dan lingkungan.
·         Depresi pada Orang tua
Depresi biasanya dianggap sebagai masalah individual. Tetapi peneliti menemukan adanya saling keterikatan antara orang yang depresi dan konteks sosial mereka. Saling ketergantungan ini sangat penting terutama dalam kasus Depresi pada orang tua dan bagaimana penyesuaian diri anak (Downey & Coyne, 990).
Ketika orang tua mengalami depresi, sangat penting bagi anak untuk mengembangkan persahabatan yang kuat di luar rumah atau sukses di sekolah dan di lingkungan pergaulan (Berdslee, 2002). Anak juga bisa mengambil manfaat dari pemahamaan terhadap situasi di keluarganya dan mengembangkan kemampuan pemahaman dan refleksi diri.
·         Depresi pada Remaja
Depresi lebih mungkin terjadi pada masa remaja dibandingkan pada masa kanak-kanak, dan remaja putri memiliki tingkat depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja putra. (Blatt, 2004; Graber. 2004; Nolen-Hoeksema, 2004, 2007). Beberapa penyebab dan perbedaan antar jenis kelamin ini adalah:
§  Remaja putri cenderung untuk tenggelam dalam depresi mereka sehingga menguatkan depresi tersebut.
§  Self-image dan remaja putri, terutama body imagenya, cenderung lebih negatif dibandingkan dengan remaja putra.
§  Puber terjadi lebih cepat pada remaja putri, sehingga remaja putri mengalami berbagai perubahan pengalaman hidup yang sangat banyak pada masa-masa SMP, yang dapat meningkatkan depresi.
Beberapa faktor dalam keluarga juga menyebabkan remaja mengalami depresi (Blatt. 2004; Graber, 2004, Holmes & Holmes, 2005). beberapa faktor ini, seperti: orang tua yang juga mengalami depresi, orangtua yang tidak memberikan dukungan emosional, orang tua yang memiliki konflik perkawinan yang tinggi, dan juga orang tua yang memiliki masalah keuangan.
Hubungan teman sebaya yang buruk juga berhubungan dengan depresi pada remaja. Lebih jelasnya, kecenderungan untuk mengalami depresi pada remaja berhubungan dengan ketiadaan hubungan yang erat dengan sahabat, jarangnya berhubungan dengan teman, dan penolakan dan teman sebaya.
Pengalaman dengan perubahan-perubahan yang terlalu menantang dan sulit juga berhubungan dengan simptom depresi pada remaja. (Compas, 2004; Compas & Grant 1993, Mazza, 2005). Perceraian orang tua merupakan salah satu contoh pengalaman tersebut.
b)      Bunuh Diri
Perilaku bunuh diri sangat jarang terjadi pada masa kanak-kanak, tetapi meningkat sangat tajam pada masa rernaja awal. Semakin dekat hubungan genetis seseorang dengan orang yang melakukan bunuh diri, semakin mungkin orang tersebut untuk juga melakukan bunuh diri. (Cerel & Roberts, 2005). Remaja putri lebih mungkin untuk melakukan percobaan bunuh diri dibandirig remaja putra, tetapi remaja putra lebih mungkin untuk berhasil dalam bunuh diri tersebut.
c)      Stres
Stres adalah respons individu terhadap situasi atau peristiwa (disebut stresor) yang mengancam dan melebihi kemampuan coping mereka. Faktor kognitif, kejadian sehari-hari, dan juga faktor sosiokultural merupakan hal-hal yang berhubungan dengan stres pada anak-anak.
·         Faktor kognitif 
Kebanyakan orang berfikir bahwa stres hanya terjadi ketika ada hal-hal yang menuntut diri kita seperti ketika akan ujian, terlibat kecelakaan atau ketika kehilangan seorang teman. Tidak semua orang mempersepsikan kejadian yang sarna sebagai hal yang membuat stres, atau merasakan stres dengan cara yang sama (Hollon, 2006). Sebagai contoh, seorang anak dapat saja menganggap ujian sebagai hal yang membuat stres, sementara anak lain menganggap hal ini sebagai tantangan jadi dalam tingkat tertentu, apa yang dianggap sebagai sumber stres bagi anak tergantung dari bagaimana kognitif mereka menilai dan menginterpretasikan kejadi tersebut (Sanders & WoIls, 2005).
·         Kejadian sehari-hari
Kejadian dan Masalah Sehari-hari Anak-anak mengalami jangkauan stresor yang sangat luas, mulai dari yang biasa sampai yang sangat parah. Stresor yang biasa ini adalah pengalaman-pengalaman dalam kehidupan sehari anak-anak, dan karena hal ini adalah hal yang umum dijumpai maka biasanya sudah tersedia pola coping yang sangat baik.
·         Faktor sosiokultural
Faktor Sosiokultural yang berhubungan dengan stress adalah stress yang diakibatkan akulturasi dan juga kemiskinan. Stress disebabkan proses akulturasi adalah konsekuensi negative dari perubahan budaya  yang disebabkan adanya persinggungan dua budaya yang berbeda yang berlangsung lama. Misalnya, anak-anak imigran dapat saja mendapati bahwa teman sekolahnya tidak ada yang rnengetahui permainan masa kecil mereka, mereka diolok-olok karena aksen bicara mereka, atau cara berpakaian mereka yang berbeda. Sedangkan, kemiskinan menyebabkan stres yang cukup besar bagi seorang anak dan juga keluarga mereka (McLoyd. 2000). Jika dibandingkan dengan anak lain, anak dan keluarga yang miskin lebih mungkin mengalami kejadian yang mengancam dan tidak bisa dikontrol. Tempat tinggal yang tidak memadai, lingkungan tempat tinggal yang berbahaya, tugas-tugas tambahan yang memberatkan, dan juga ketidakpastian ekonomi adalah stresor yang sangat berpengaruh dalam kehidupan kaum miskin(Brooks-Gunn, Leventhal, & Duncan, 2000).

PERTANYAAN DAN TUGAS
1.      Faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan sosioemosional anak ?
2.      Apa perbedaan antara gaya pengasuhan  Authoritarian dengan Authoritative ?
3.      Apa penyebab depresi pada anak ?
4.      Faktor apa saja yang dapat menyebabkan stres ?
5.      Apa yang dimaksud dengan pola asuh tidak terlihat ?

No comments:

Post a Comment