Sunday, 9 February 2014

makalah sejarah pendidikan orde katolik, sekolah kartini dan kautamaan istri



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pendidikan adalah suatu eksperimen yang berlangsung seumur hidup manusia. Pendidikan itu ada dua macam, pendidikan formal yang mengacu pada sistem-sistem tertentu dan pendidikan nonformal yang bebas dilakukan bagaimana saja. Di Indonesia, pendidikan formal mulai berkembang ketika bangsa Barat mulai datang menjajah negara ini. Seperti bangsa Spanyol dan Portugis. Mereka membawa pengaruh yang sangat besar bagi pendidikan di Indonesia, terlebih pada orde katolik.
Pendidikan di Indonesia pada orde Katolik mulai mengalami perkembangan yang ditandai dengan didirikannya sekolah-sekolah formal oleh bangsa Spanyol dan Portugis. Awalnya sekolah tersebut didirikan untuk tujuan peribadatan, yaitu mendidik calon imam (pastor). Selajutnya, pada zaman penjajahan Hindia-Belanda pendidikan di bawah asuhan Katolik mulai diperbolehkan membuka sekolah umum. Hingga banyak didirikan sekolah Katolik di beberapa daerah di Indonesia.
Perkembangan berikutnya, dari kalangan pribumi sendiri banyak yang mulai menyadari pentingnya akan pendidikan. Munculah tokoh-tokoh pendidikan di Indonesia seperti R.A. Kartini yang mendirikan Sekolah Kartini di Rembang. Selain itu, tokoh berikutnya adalah Dewi Sartika yang mendirikan Sakola Kautamaan Istri di Bandung pada tahun 1904. Oleh sebab itu, untuk mengetahui bagaimana perkembangan pendidikan di Indonesia pada zaman itu kami menyusun sebuah makalah yang berjudul “Sejarah Pendidikan – Orde Katolik, Sekolah Kartini, dan Sakola Kautamaan Istri”.

1.2  Rumusan Masalah
1.2.1        Bagaimana perkembangan pendidikan di Indonesia pada orde Katolik?
1.2.2        Bagaimana riwayat Sekolah Kartini?
1.2.3        Bagaimana riwayat Sakolah Kautamaan Istri?



1.3  Tujuan Penulisan
1.3.1        Untuk mengetahui perkembangan pendidikan di Indonesia pada orde Katolik
1.3.2        Untuk mengetahui bagaimana riwayat Sekolah Kartini
1.3.3        Untuk mengetahui bagaimana riwayat Sakola Kautamaan Istri
























BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Orde Katolik
Bangsa Spanyol dan Portugis pada abad ke 16 datang ke Indonesia untuk mencari rempah-rempah atau kebutuhan hidup lainnya. Bangsa ini termasuk penganut agama Katolik yang kuat imannya. Di mana mereka berada, di mana mereka bekerja dengan kesadaran iman yang kuat itu mereka menjalankan ajaran agamanya. Hal itu dijalankan juga bagi bangsa itu yang berada di Indonesia seperti tersebut di atas. Dengan demikian, mereka sering dikatakan sambil berdagang bangsa Spanyol dan Portugis itu juga menyebarkan agama Katolik.
Untuk memenuhi ibadat mereka pada tahun 1536 mendirikan sekolah Seminari, sekolah yang mendidik calon imam (pastor), di Ternate. Sekolah ini juga menerima anak-anak pribumi. Tetapi karena sekolah ini sekolah agama dan penerimaan siswa pun terbatas jumlahnya, maka sekolah ini tidak bisa berkembang dengan baik. Dan selain itu penduduk di daerah Maluku belum mempunyai kesadaran dan pengertian tentang sekolah.
Kemudian tidak berapa lama datanglah bangsa Belanda yang arah pertamanya tidak berbeda dengan bangsa Spanyol dan Portugis ini, yaitu berdagang mencari rempah-rempah yang banyak dihasilkan di daerah Maluku. Bangsa Belanda ini berbeda keyakinan atau agama dengan bangsa Spanyol dan Portugis. Bangsa Belanda semakin hari semakin kuat makin besar pengaruhnya dan akhirnya dapat mendesak bangsa Spanyol dan Portugis itu.
Selanjutnya pada zaman penjajahan Hindia-Belanda pendidikan di bawah asuhan Katolik mulai diperbolehkan membuka sekolah umum. Pada permulaan itu dibuka dua buah sekolah putri di Jakarta, satu sekolah putra, dan satu sekolah putri di Surabaya. Sekolah-sekolah itu didirikan oleh para Romo atau Bruder atau Suster. Sehingga kebanyakan sekolah Katolik ini menganut sekolah nonkoedukasi, yaitu memisahkan antara murid putra atau murid putri.
MULO 1920.jpg


                                                                                                                                                                                                                       


Gambar 1.1 Sekolah Orde Katolik
Di luar Pulau Jawa sekolah Katolik terdapat di Larantuka (Pulau Flores) dan Pulau Bangka. Yang ada di Larantuka cukup terkenal. Sekolah itu meskipun termasuk sekolah umum, tetapi memberikan pelajaran ketrampilan, seperti pertukangan besi, tembaga, pertanian, dan juga kesehatan.
Pimpinan pertama sekolah ini ialah Bruder de Ruyeter S.Y. Sekolah ini dilengkapi dengan asrama bagi siswa-siswanya. Dalam usaha pengabdiannya ke masyarakat sekolah ini pada tahun 1870 mengadakan praktek lapangan (semacam KKN Mahasiswa sekarang) dengan memberikan suntikan pencegahan penyakit cacar kepada penduduk Kupang (Timor). Dalam kegiatan ini sangat dirasakan besar manfaatnya, lebih-lebih penduduk di sekitar sekolah itu. Sehingga ketika terjadi wabah penyakit cacar yang menyerang hampir di seluruh Flores atau Nusa Tenggara Timur, satu-satunya daerah yang terhindar dari penyakit itu ialah daerah Larantuka.
Lalu pada tahun 1880 oleh suster-suster Santa Ursula di Jakarta didirikan sekolah guru (normal cursus). Sekolah ini menerima siswa khusus putri.                  
Kebanyakan sekolah yang didirikan di Jawa memakai bahasa pengantar bahasa Belanda; karena guru-gurunya sebagian besar para Pastor atau Bruder atau Suster yang belum begitu fasih dengan bahasa Jawa/Indonesia. Tetapi di daerah luar Pulau Jawa telah digunakan bahasa Melayu. Lalu pada tahun 1892 atas prakarsa Pastor W. Hellings S.Y. didirikan sekolah-sekolah berbahasa Jawa di Muntilan, Mungkit, Tempuran, dan Salam (Jawa Tengah). Dan pada waktu di bawah pimpinan Pastor Van Lith sekolah di Muntilan dan Pastor Hoevevaars sekolah di Mendut, lebih diintensifkan sekolah dengan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantarnya. Lalu suster-suster Fransiskan membuka sekolah guru (Kweekschool) di Mendut, pada tahun 1899.
Sekolah sekolah Katolik banyak menerima subsidi dari pemerintah. Sebagai gambaran sekolah sekolah-sekolah yang mendapat subsidi (1938) antara lain :
1.         AMS (SMA)                                : 1 sekolah
2.         HBS (SMP raja/pejabat)              : 3 sekolah
3.         MULO                                         : 10 sekolah
4.         ELS                                              : 40 sekolah
5.         HCS                                             : 125 sekolah
6.         HIS                                              : 18 sekolah
7.         Schkel school                               : 3 sekolah
8.         Vervolg school                             : 71 sekolah
9.         Volk school                                  : 529 sekolah
10.     HIK                                              : 1 sekolah
11.     Normal school                              : 1 sekolah
12.     Kursus guru desa                                     : 4 sekolah
13.     Ambactschool                              : 3 sekolah
14.     Sekolah Ketrampilan Putri           : 2 sekolah
Jumlah sekolah yang mendapat subsidi = 698 sekolah
Melihat jumlah sekolah yang semakin banyak itu maka dapat dikatakan sekolah-sekolah swasta Katolik ini cukup pesat perkembangannya. Demikian juga pada zaman kemerdekaan ini. Banyak sekolah yang mempunyai nama yang baik karena mutu sekolah itu tidak kalah dengan sekolah lain, bahkan ada juga yang lebih menonjol. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan sekolah itu maju ialah :
1.      Sekolah telah banyak membantu daerah secara nyata dalam menangani pendidikan, dan juga bidang lain.
2.      Sekolah memperhatikan anak-anak Bumi Putra yang cukup baik.
3.      Banyak pejabat di daerah atau pusat yang dulu dididik di sekolah Katolik.
4.      Sekolah itu mendidik siswanya dengan penuh disiplin, tekun, ulet, dan rajin.
5.      Dan yang tidak kalah pentingnya berkat ketekunan daripada pimpinan dan guru, yang bekerja/mengajar dengan penuh dedikasi.
Tetapi di dalam perjalanannya, seiring juga mengalami hambatan kesulitan, antara lain :
1.      Banyaknya siswa dari keturunan asing termasuk juga Belanda, China, dan bangsa Eropa lainnya; sehingga sering disebut sebagai sekolah elite.
2.      Sekolah masih masih memakai bahasa pengantar bahasa Belanda.
3.      Terbatasnya dana sehingga banyak terjadi satu sekolah dipakai oleh beberapa sekolah.
4.      Pada zaman Jepang semua sekolah swasta termasuk termasuk sekolah Katolik ditutup. Hal itu menyulitkan dalam merehabilitirnya.

2.2  Sekolah Kartini
Sekolah Kartini merupakan sekolah yang diprakarsai oleh R. A Kartini atas dasar kesadaran beliau terhadap pendidikan kaum perempuan bangsa Indonesia. Bertempat di Rembang, Jawa Tengah, R.A Kartini membantu kaum perempuan yang tidak bisa mengenyam pendidikan untuk sedikit merasakan dunia pendidikan.
2.2.1 Riwayat Kartini
            Sekolah kartini merupakan sekolah yang didirikan oleh salah seorang pejuang wanita di Indonsia yaitu R.A. Kartini. Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Sosroningrat, bupati Jepara. Beliau putri R.M. Sosroningrat dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Beliau adalah keturunan keluarga yang cerdas. Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
2.2.2  Berdirinya Sekolah Kartini
Sekolah umum yang diprakarsai oleh bangsa Indonesia sendiri semakin berkembang, sebagai contohnya adalah Sekolah Kartini yang merupakan bentuk kegigihan R.A. Kartini dalam memperjuangkan pendidikan kaum perempuan pada  masanya. Dimana pada masa R.A. Kartini, selain anak-anak bangsawan perempuan tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan seperti halnya kaum laki-laki. Sekolah Kartini ini sebagai simbol rintisan pendidikan bagi rakyat biasa, dengan adanya sekolah ini pendidikan dapat diperoleh dan berkembang di kalangan rakyat biasa, tidak hanya pada kaum bangsawan saja. Maka banyak muncul kaum cendekiawan dari rakyat biasa, yang terus melanjutkan perjuangan R.A. Kartini.
Sekolah Kartini didirikan semasa R.A Kartini menjadi istri bupati Rembang. Sekolah ini didirikan karena hati Kartini tergerak untuk berbagi ilmu dengan kaum perempuan yang tidak mampu mengenyam pendidikan. Sekolah ini bertempat di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, dimana kondisi sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.
Sekolah Kartini ini merupakan sekolah dasar pada masa itu yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar pendidikan yang diperuntukkan bagi gadis remaja. Berbeda dengan SD biasa, di Sekolah Kartini diberikan pelajaran tambahan memasak dan menjahit. Sekolah ini terletak di Jl. Kartini, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Untuk pendirian sekolah ini berawal dari "Dana Kartini" yang digalakkan beberapa tokoh Belanda untuk menjawab tuntutan politik etis pada awal abad 20. Sekolah pun mulai banyak berdiri di kota besar dan seluruhnya dikelola swasta. Namun antara Sekolah Kartini di beberapa kota tidak saling berhubungan. Dengan semangat Sumpah Pemuda dan berkat perjuangan Ny. Abdurachman (istri wedana Mester Cornelis atau Jatinegara), staf pengelola dan pengajar terdiri dari perempuan Indonesia (1928). Di Jakarta selain Sekolah Kartini I di Jl. Kartini (Kartiniweg) juga ada Sekolah Kartini II di Pasar Nangka dan Kartini III di Jatinegara (1928). Pada masa pendudukan Jepang sekolah ini ditutup karena gedungnya digunakan untuk asrama tentara Jepang. Sekolah dibuka lagi tahun 1953, memperingati 25 tahun Persatuan Gerakan Wanita. Pada masa kemerdekaan, nama sekolah berganti menjadi Sekolah Kerajinan Wanita "Kartini". Bentuknya tidak banyak berbeda dengan Sekolah Kepandaian Puteri milik pemerintah, kecuali gurunya menerima subsidi. Untuk pencarian dana, kemudian didirikan Yayasan Sekolah Kartini (1962) yang diperoleh dari beberapa kalangan di Belanda.
sekolah kartini di masa lalu






Gambar 2.1 Sekolah Kartini di Masa Lalu
Dalam perkembangannya didirikan sekolah tambahan, berupa Sekolah Kejuruan Industri Pariwisata (SKIP) pada tahun 1971 dan Sekolah Menengah Kesejahteraan Keluarga (SMKK) tahun 1976. Dalam SKIP diajarkan cara memasak menurut standar masakan Indonesia, Eropa, dan Tionghoa. Selain itu juga ada pelajaran tentang tata cara pengaturan belanja, pengaturan kebersihan, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan rumah tangga untuk kepentingan pariwisata. Sedang di SMKK, lulusannya diharapkan melanjutkan ke IKIP di Jurusan Kesejahteraan Keluarga. Di beberapa tempat, sekolah Kartini sudah melebur menjadi sekolah negeri. Gedung Sekolah Kartini mempunyai sebuah beranda berbentuk pendopo di bagian tengah dan seluruh tiangnya terbuat dari kayu yang berkualitas. Gedung ini didirikan oleh Bataviasche Kartini School Vereniging (Perkumpulan Sekolah Kartini di Jakarta) pada tahun 1913. Anggota perhimpunan terdiri dari nyonya-nyonya Belanda dan istri para pegawai negeri Pemerintahan Hindia Belanda.

2.3 Sakola Kautamaan Istri
Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Dewi Sartika pada tahun 1904 di Bandung. Sekolah ini didirikan atas dasar keprihatinan beliau terhadap pendidikan di Indonesia pada saat itu.
Capture.PNG2.3.1 Riwayat Dewi Sartika
Dewi Sartika (lahir di Bandung, 4 Desember 1884 – meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Dewi Sartika dilahirkan di keluarga priyayi Sunda, Nyi Raden Rajapermas dengan Raden Somanagara. Sedari kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, belajar baca-tulis, dan bahasa Belanda, kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar.
3.3.2 Berdirinya Sakolah Kautamaan Istri





Gambar 3.2 Sakola Kautamaan Istri di Masa Lalu
Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu.
Sekolah Dewi Sartika terletak di Jalan Keutamaan Istri No. 12, Kelurahan Balong Gede, Kecamatan Regol. Berada pada koordinat 107º 36’161’’ BT dan 06º 55’ 323’’LS.
Sekolah Dewi Sartika semula bernama Sakola Istri yang didirikan oleh Raden Dewi Sartika pada 16 Januari 1904, bertempat di Paseban Kulon Pendopo Kabupaten Bandung. Sekolah ini merupakan sekolah pertama bagi gadis-gadis Indonesia. Pada waktu berdirinya sekolah itu hanya memiliki dua ruangan untuk belajar. Muridnya berjumlah dua puluh orang dengan tiga orang tenaga pengajar, yaitu Raden Dewi Sartika, Ibu Purma, dan Ibu Uwit.
Kurikulum yang diberikan di sekolah pimpinan Raden Dewi Sartika itu disesuaikan dengan kurikulum Sekolah Kelas Dua (Tweede Klasse Inlandsche School) milik pemerintah, tetapi ditambah dengan mata pelajaran ketrampilan yang sesuai dengan kodrat wanita, seperti memasak, mencuci, menyetrika, membatik, menjahit, menisik, merenda dan menyulam, yang ada hubungannya dengan kepentingan rumah tangga. Selain itu diajarkan pula pelajaran agama, kesehatan, bahasa Melayu dan bahasa Belanda. Pelajaran-pelajaran tersebut tidak hanya diberikan secara teori, tetapi diberikan juga dalam bentuk praktik.
Perkembangan Sakola Istri cukup pesat, pada tahun 1905 ruangan belajar di Paseban Kolon sudah tidak memadai lagi sebab jumlah muridnya meningkat. Oleh karena itu sekolah dipindahkan ke Jalan Ciguriang, yang bangunannya lebih luas dan gurunya pun ditambah pula. Untuk mengimbangi peningkatan jumlah murid, empat tahun kemudian yaitu pada tahun 1909 bangunan sekolah diperluas lagi sehingga menghadap ke Jalan Kebon Cau (sekarang Jalan Keutamaan Istri). Setelah dapat mengatasi segala tantangan yang ada, akhirnya pada tahun 1909 sekolah itu dapat mengeluarkan lulusan pertamanya dengan mendapat ijazah. Pada tahun 1910 nama sekolah itu diganti menjadi Sakola Dewi sartika, dan pada tahun 1911 sekolah ini telah memiliki lima kelas. Selanjutnya Sekola Dewi Sartika menyebar ke pelbagai kota kabupaten, antara lain ke Garut, Tasikmalaya dan Purwakarta. Murid-murid bukan saja anak-anak wanita dari kota, tapi banyak
Pada tahun 1914 nama sekolah itu diganti lagi menjadi Sakola Kautamaan Istri guna mendekati tujuan pendidikan di sekolah itu yakni menghasilkan wanita utama. Muridnya bertambah lagi ada yang datang dari luar Tata Sunda, setelah lulus mendirikan sekolah Keiutamaan Istri di kampung halamannya. Pada tahun 1920, tiap-tiap kabupaten di seluruh Tatar Sunda sudah mempunyai Sakola Keutamaan Istri.
Atas usul Ny. Hillen dan Ny. Tijdeman  pada ulang tahun ke 25 Sekolah Keutamaan Istri, Pemerintah Hindia Belanda memberikan sumbangan sebuah sekolah baru yang mulai dipakai September 1929, sedangkan Raden Dewi Sartika dianugerahi tanda jasa “Bintang Perak”. Tahun 1940 Raden Dewi Sartika, mendapat tanda jasa kerajaan berupa Ridder in de Orde in de Orde van Nassau untuk pengabdiannya sebagai pendidik pertama anak-anak gadis





BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pendidikan pada zaman orde katolik membawa perubahan yang besar bagi perkembangan pendidikan di Indonesia ke depannya. Karena cikal bakal pendidikan formal bermula dari sekolah-sekolah yang didirikan pada zaman tersebut.
Suatu kebanggaan yang besar teruntuk R. A Kartini dan Dewi Sartika yang membawa perubahan bagi pendidikan di Indonesia. Karena merekalah yang mengubah mindset masyarakat tentang kesamaan gender dan strata antara laki-laki dan perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang setara.
Kepedulian yang besar terhadap pendidikan di Indonesia terutama bagi kaum wanita telah membawa perubahan yang berarti bagi pendidikan di masa kemerdekaan seperti sekarang ini.
















DAFTAR RUJUKAN

Anonim.___. Kartini Sekolah,(Online), (http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/1317/Kartini-Sekolah), diakses tanggal 5 September 2013.

Anonim. 2011. Sakola Kautamaan Istri, Kepedulian Dewi Sartika, (Online), (http://m.pikiran-rakyat.com/wisata?page=69), diakses tanggal 5 September 2013.

Anonim. 2011. Sekolah Dewi Sartika, (Online), (http://disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=86), diakses tanggal 5 September 2013.
Anonim. 2013. Dewi Sartika, (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Dewi_Sartika), diakses tanggal 5 September 2013.

Anonim. 2013. Kartini, (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Kartini), diakses tanggal 5 September 2013.

Astuti, Widi. 2012. Dewi Sartika, Pendiri Sakola Kautamaan Istri ,(Online), (http://www.ibuprofesional.com/profiles/blogs/dewi-sartika-pendiri-sakola-kautamaan-istri), diakses tanggal 5 September 2013.

Soemanto, Wasty Drs. & Soeyarno, F. X. Drs. 1983. Landasan Historis Pendidikan Indonesia. Surabaya: Usaha Nasional.
Sujatmoko, Ivan.2012.Sekolah Kartini, (Online), (http://pendidikan4sejarah.blogspot.com/2011/06/sekolah-kartini.html), diakses pada tanggal 5 September 2013.

Tobucil.2012.Mengingat Kembali Kautamaan Istri,(Online), (http://www.handmade.tobucil.net/2012/04/mengingat-kembali-kautamaan-istri.html), diakses tanggal 5 September 2013.


No comments:

Post a Comment