Friday, 3 October 2014

KESAN PESAN SELAMA BERADA DI BALIKPAPAN


(15/9) Waktu menunjukkan pukul 08.30 ketika pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 0360 landing di Sepinggan International Airport alias Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman *duh panjang sekali*. Setelah menempuh perjalanan di atas ketinggian sekitar 1,5 jam dari Bandar Udara Juanda (Suroboyo men) dan perjalanan darat selama 4 jam dari rumahku tercinta di Desa Sumberejo Kulon Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung Kode Pos 66292.
Sesampainya di darat alias di dalam bandara, aku dan kedua orang tuaku (Bapak Suwarno yang paling ganteng sedunia dan Ibu Samrotin yang paling cantik sedunia tiada tara) bergegas menuju tempat pengambilan barang-barang yang diletakkan di dalam bagasi pesawat dengan riang. Kenapa dengan riang? Karena ini adalah kali pertama kami bertiga datang ke Borneo Island (Wesseeh) atau Kota Balikpapan ini. Ini juga merupakan kali pertama kami menumpangi pesawat. Bandara ini sangat bersih, luas dan masih agak sepi karena mungkin masih pagi. Ternyata ketika hari itu merupakan peresmian Bandara oleh Presiden RI, tapi aku tak berhasil menemuinya. Mungkin belum datang bapak-bapaknya.
Diantara puluhan trolly, hanya satu yang ku pilih *begitupun juga cintamu* dan kemudian menunggu bongkahan-bongkahan tas yang keluar. Sambil menunggu tas yang belum tiba juga, aku dan kedua orang tuaku melihat-lihat pemandangan di sekitar tempat penantian tersebut. Dan pandangan kami pun bertemu pada sebuah titik, yakni seseorang yang mengenakan baju hitam dan mengenakan rok hitam. Pikiran kami pun melayang menuju pada satu pemikiran, yaitu DIA PASTI MAU DAFTAR ULANG DI STAN. Daripada bertanya-tanya dalam hati, Bapak pun bergegas menemui sesosok itu dan bapaknya juga. Aku yang sedang malu-malu pun hanya melihat dari kejauhan dan berharap bahwa dugaan kami benar sambil sesekali memainkan handphone untuk memotret diriku sendiri alias SELFIE. Karena tidak sabar, aku pun menghampiri mereka dan alhasil benar dugaan kami. Dia adalah Shinta dari Kota Malang, dia ternyata satu pesawat denganku. Kami pun berbincang dengan hangat *namun masih hangat berdiam diri di samping tungku sambil mendidihkan air*. Tak terasa tas yang kami tunggupun tiba. Ku ambil bongkahan-bongkahan tas dan menaruhnya di atas trolly. Keluargaku dan keluarga Shinta pun bergegas menuju pintu keluar. “tok tok tok”, suara handphoneku berbunyi *nada dering sms yang mirip dengan suara penjual bakso*, sebuah sms aku terima dari Ari Indah, calon teman sekosku yang berasal dari Kediri. Perlu diketahui bahwa dia pun telah tiba di Bandara. Dia memberitahuku bahwa dia telah di dekat pintuu keluar, aku pun bergegas menemuinya namun tak ku dapati dia. Dia telah dijemput oleh saudaranya.
Ku cari toilet terdekat untuk menyulap diriku menjadi manusia berbaju hitam dan putih. Setelah itu aku pun membeli tiket taksi di loket kemudian langsung menuju BDK Balikpapan. Di loket taksi tadi terdapat tiga varian (zona lebih tepatnya) harga taksi mulai dari Rp 55.000 untuk zona 1. Terdapat beberapa macam pilihan model mobil yaitu T A dan mobil berjenis sedan. Jadi, kalau kita sedang membawa banyak barang pakai saja taksi yang T A.
Ketika di perjalanan menuju BDK Balikpapan, ku lihat di kanan dan kiri terdapat beberapa bangunan seperti rumah dinas walikota Balikpapan. Jalan menuju BDK naik turun bergelombang seperti di daerah Batu, Jawa Timur.
Begitu memasuki gerbang BDK, pikiran pertamaku langsung mengarah ke SMAku dulu. Hampir-hampir mirip lah suasananya. Sudah berasa di Jawa hehehe. Suasana masih sepi, mungkin belum banyak yang datang karena masih hari pertama, pikirku. Aku pun langsung daftar ulang. Daftar ulang aku habiskan dengan duduk menulis data, berkenalan dengan teman-teman baru, memperhatikan pegawai-pegawai, menahan rasa lapar, dan bernarsis ria di foto Kartu mahasiswa.
Menuju ke tempat kos. FYI, aku dan 3 orang temanku telah memesan 2 buah kamar di sebuah tempat kos via telefon. Perjumpaan pertama dengan tempat kos begitu menarik. Kamarnya luas, kasurnya juga nyaman namun sayang airnya masih *maaf* kotor. Satu per satu teman sekosku mulai berdatangan. Dimulai dari Ulfi yang datang duluan, aku, Shinta, Ari, Nanda, Auvi, Dita dan Adel. Teman-teman baruku sangat menyenangkan, menggembirakan dan memalukan mengesankan.
Hari-hari berlanjut dan dikarenakan tuntutan perut berpetualanglah aku untuk membeli beberapa jenis makanan pengisi perut yang meronta-ronta ini. Meskipun telah diberitahu oleh kakak-kakak di BDK jika harga makanan di sini mahal, aku tetap tidak percaya. Masuklah aku ke dalam beberapa warung dan menyaksikan realita yang ada. Nasi pecel dengan harga Rp 9.000,00, nasi campur dengan harga Rp 10.000-14.000. Padahal di Jawa, untuk nasi pecel dibandrol dengan harga mulai Rp 3.000-Rp 5.000. Kaget, memang kaget tapi apalah daya ini untuk melawan harga-harga tersebut. Sejak itulah, aku tak berani memasuki warung-warung makan yang sekiranya akan menguras isi tabungan untuk beberapa bulan.
(18/9) Aku dan Ari mencoba untuk menjelajahi salah satu bagian dari kota minyak ini. Hawa panas dan teriknya sinar matahari di daerah ini tak menyurutkan niat kami untuk pergi. Dimulai dari keluar gang kos, mencari angkot 2A. Kami mengiranya angkot itu melewati BDK, namun ternyata tidak. Kami pun berjalan hingga sampai di dekat ATM Center dan akhirnya ada angkot yang kami nanti dengan hati yang gembira.
Di dalam angkot, ku lihat ke kanan dan kiri. Deretan pertokoan, pabrik, dan berbagai gedung kami lihat. Meskipun ya terlalu kelihatan agak “ndeso”. Aku tanya kepada Ibu beranak satu yang duduk disampingku tentang apa yang harus kami lakukan untuk mencapai pasar Klandasan. Si ibu pun menjelaskan dengan riang dan mungkin agak jengkel karena aku terlalu kepo terhadap beliau. Setelah mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada si Ibu dan telah tiba di sebuah tempat transit atau semacam terminal yang entah apa namanya, kami pun mencari angkot berwarna biru bernomorkan kaca belakang angka 6. Akhirnya kami dapatkan juga dan mulai duduk sambil menikmati pemandangan di kanan dan kiri.
Pasar Klandasan, pasar pertama di kota ini yang aku kunjungi. Kesan pertama ya seperti pasar lain di Pulau Jawa. Terdapat penjual sayur, sembako, pacar, ikan dan kebutuhan lainnya. Sebenarnya, aku tertarik untuk membeli beberapa makanan yang sepertinya khas daerah ini, namun aku berpikir ulang karena tujuan utamaku adalah membeli penjepit baju dan beberapa barang plastik lainnya. Berjalan sambil melihat keadaan pasar dan tibalah di sebuah pintu keluar, aku pun takjub, berdiri mematung. Laut! Ya ternyata pasar Klandasan berada di pinggiran laut. Subhanallah, takjub sekali karena baru pertama kali ini ku temui hal yang seperti ini *maaf lah biasanya kan di daerahku tidak ada*.
Puas mengelilingi pasar Klandasan, aku dan temanku pun berjalan menuju ke beberapa spot menarik untuk sekedar mencari hawa dingin dan mencuci mata *bukan arti sebenarnya*. Tempat pertama adalah Plaza Balikpapan, ini merupakan semacam mall besar dengan barang-barang branded yang tentunya belum cocok untuk kalangan perantau amatir semacamku. Jadi ya hanya melihat-lihat saja. Yang kedua dengan gedung yang bersebelahan adalah semacam plaza tapi dengan barang yang *maaf* KW tapi juga ada aslinya juga. Dengan tujuan yang sama pula kami mengelilingi plaza tersebut.

Itulah sedikit pengalaman awalku di kota Balikpapan ini. Terdampar di kota penghasil minyak ini dikarenakan STAN. Kota yang agak kecil *sepertinya, aku belum mengelilinginya* dengan hawa panas dan harga-harga yang begitu mahal kiranya sempat membuat kami, para perantau dari pulau jawa kaget atau bahkan pingsan ketika mengetahui harganya. 

No comments:

Post a Comment