Wednesday, 10 June 2015

CERPEN : KENANGAN LAKSONO



Semburat jingga terlihat di peraduan. Desiran ombak seolah memanggil seseorang untuk menikmatinya. Kupu-kupu ungu hinggap pada bahu itu. Ya, bahu itu. Bahu seorang pemuda yang kekar.Pemuda itu, Laksono. Adalah putra dari seorang mantri di desa kecil di pelosok Jawa Timur. Berbekal semangat, tekad, dan otak yang cemerlang, Laksono mengadu nasib di kota metropolitan ini. Tak satu pun senja terlewat olehnya tanpa pantai ini. Di pantai ini, segala kenangan 4 tahun ini terkuak. Kenangan antara dia, Puspita, dan Pambudi.
Sambil bersenandung kecil, Laksono sesekali melemparkan batuan maupun kerang kecil ke arah laut. Bergumam sedikit. Menggerutukan hal yang bisa digerutuni, itu katanya tiap teman-teman di perusahaan menanyai tentang hal yang dilakukannya setiap sore di pantai.
Sore itu, kupu-kupu ungu yang hinggap di bahunya membuatnya teringat kembali akan sosok Puspita. Mantan rekan sekantornya dan yang pernah menghiasi hatinya, bahkan sampai sekarang. Puspita menjadi bagian terindah fase kehidupan Laksono setelah kedua orang tua dan ketiga adiknya. Namun, fase indah itu pecah tatkala Puspita pergi meninggalkan Laksono bersama Pambudi, sahabat karib Laksono sejak kecil.
Laksono terkekeh-kekeh sendirian teringat masa lalunya, kenangannya. Mengenang betapa bodohnya dia dulu pernah menyia-nyiakan Puspita, mencampakkan Puspita, dan kurang peka akan hadirnya Puspita di dalam hatinya. Benar, dulu Laksono hanya menyangkal apabila banyak teman yang memberitahunya jika Puspita jatuh hati padanya, Laksono hanya mengira hal itu biasa-biasa saja di tengah prosesnya menuju jabatan yang lebih tinggi di Perusahaannya. Ketika Puspita mulai menunjukkan rasa perhatian, kasih sayang, dan cintanya pada Laksono, Laksono hanya menganggapnya sebagai perhatian biasa seorang rekan kerja di kantor, padahal Puspita berharap lebih.
Selama 4 tahun Puspita jatuh bangun menghadapi sikap cuek bebek Laksono yang semakin menjadi-jadi hingga akhirnya ia bertemu dengan Pambudi, sahabat karib Laksono ketika menghadiri perayaan kenaikan jabatan Laksono di sebuah cafe. Puspita yang dilanda kegalauan akibat sikap orang yang dicintainya begitu buruk bertemu dengan seorang pemuda yang jauh lebih mapan daripada Laksono, bertampang ganteng, ramah, murah senyum, dan ada satu lagi yaitu rendah hati membuat hati Puspita mulai goyah. Pambudi yang selalu bisa membuatnya tersenyum, membuatnya terasa ada, dan membuatnya menjadi lebih bermakna mulai menggetarkan hati Puspita.
Pambudi tahu apabila Puspita telah menaruh hati pada Laksono sejak beberapa tahun yang lalu. Pambudi tahu apabila Puspita kewalahan menghadapi sikap Laksono yang tak kunjung membaik. Dan Pambudi tahu apabila hatinya ikut bergetar apabila berada di dekat Puspita!
Awalnya, sosok Pambudi hanyalah menjadi perantara antara Laksono dan Puspita. Mulai dari mempertemukan mereka berdua, mengajak bermain ke pantai setiap sore, dan memberikan nasihat-nasihat kepada mereka berdua agar bisa tumbuh kemistri diantaranya. Namun, lama kelamaan, Pambudi menyerah, ia malah terjerembah dalam lubang hati Puspita.
Laksono, setelah beberapa tahun macak mbudheg, akhirnya mulai membuka telinga tentang Puspita. Dengan menanyai sumber-sumber yang terpercaya, Laksono mengorek informasi. Dia tertegun melihat perjuangan Puspita. Dia merasa menjadi laki-laki paling bodoh sedunia karena tidak peka dengan perjuangan cinta seorang wanita. Ia menyesal telah bersikap cuek pada Puspita. Sebenarnya, katanya pada sekertarisnya, Puspita merupakan gadis berhijab paling cantik, anggun, dan sholehah di kantornya. Laksono menjadi lebih sering memuji pekerjaan Puspita, mulai memberikan perhatiannya pada Puspita dan berharap agar Puspita senang karena cintanya terbalaskan.
Namun sayang, penyesalan Laksono terlambat! Di suatu siang ketika Laksono akan mengajak Puspita untuk makan siang berdua di restoran dekat pantai, di dalam ruangan Puspita sudah ada Pambudi yang menjemput Puspita untk makan siang berdua. Melihat hal itu pun membuat Laksono menjadi ciut. Semacam ada goresan luka di hatinya yang membuat perih. Namun, tak membuatnya patah semangat. Keesokan harinya, ia mengajak Puspita untuk makan siang di luar kantor, tapi bagaimana respon Puspita? Puspita menolak! Puspita berkata bahwa ia akan pergi makan siang bersama Pambudi dan dilanjutkan dengan fitting baju pernikahan mereka berdua.
Bagaikan disambar petir ketika Laksono mendengarkan jawaban dari mulut Puspita bahwa Puspita akan menikah dengan Pambudi, sahabatnya sendiri. Ia pun keluar dari ruangan Puspita dengan tatapan kosong dan langsung keluar kantor menuju ke arah pantai. Sesampainya di pantai, Laksono berteriak sejadi-jadinya, meluapkan segala emosinya. Dari arah belakang, Puspita dan Pambudi menyusulnya karena mereka khawatir sesuatu yang buruk akan menimpa Laksono.
Sekarang , Laksono, Puspita, dan Pambudi bertemu. Saling bertatapan mata. Dimulai dari Puspita yang meminta maaf dan menceritakan semua yang pernah terjadi kepada Laksono hingga air mata pun jatuh ke pipinya. Pambudi yang turut menjadi tersangka ikut-ikutan meminta maaf karena telah mencintai Puspita. Sedangkan Laksono hanya bisa diam dan mengangguk-angguk. Laskono masih terguncang.
Mulut Laksono mengatakan bahwa ia menerima apa yang telah dan akan terjadi pada kehidupannya, Puspita dan Pambudi. Puspita mengatakan bahwa hari itu adalah hari terakhir ia bekerja di kantor karena setelah menikah, ia akan mengikuti Pambudi yang bekerja di Kalimantan. Puspita benar-benar meminta maaf kepada Laksono karena dulu pernah berharap pada Laksono dan sekarang harapan itu telah sirna.
Kupu-kupu ungu telah pergi. Kenangannya buyar. Ia coba memunguti sampah yang ada di bawahnya. Sambil berdiri ia melihat dari arah kejauhan seorang wanita yang sedang berjalan ke arahnya sambil menggendong bayi kecil. “Ratih!”teriakknya.

No comments:

Post a Comment