Monday, 25 January 2016

[CERPEN] Salah Nama Berbuah Cinta



Salah tulis nama. Hampir setiap orang yang bernama dengan penulisan tidak lazim sering mengalaminya. Misalnya SOEPARDJO dengan pelafalan SUPARJO kadang salah tulis menjadi SUPARDJO, SOEPARJO atau bahkan SUPARJA. 

Subuh itu Tiyas mulai membuka mata setelah terlelap selama hampir 9 jam akibat kelelahan mengerjakan laporan yang telah di ujung deadline di kantornya. Setelah mengambil air wudhu kemudian ia pun sholat subuh. Memasak bekal untuk dibawa ke kantor dan menyetrika baju seragam merupakan rutinitas awal sebelum pergi berangkat kerja.

Dengan langkah gontai Tiyas menyusuri gang rumahnya sambil celingak-celinguk melihat apakah ada angkot yang telah berhenti. Ternyata ada satu angkot yang telah berhenti di samping gang rumahnya. Ia bergegas masuk ke dalam angkot yang sudah terisi separuh. “Mangun Sarkoro, Bang”. Teriaknya. Setelah dua orang lainnya memasuki angkot yang ditumpanginya, angkot itu pun melesat. 

Jalanan pagi ini terasa lengang. Tumben. Mungkin karena anak sekolahan yang libur karena ujian sekolah kakak kelas mereka. Perjalanan yang biasanya memakan waktu 30 menit hanya ditempuh 20 menit. Hemat 10 menit yang bisa digunakan Tiyas untuk melangkah santai ke dalam kantor ataupun sedikit ngobrol hangat dengan satpam kantor.

Pekerjaan Tiyas hari itu sedikit berkurang karena kemarin merupakan deadline dari segala tugasnya. Sambil sesekali mengecek laman kepegawainnya. Dia sedang menunggu pengumuman diklat teknis yang katanya akan keluar jadwalnya hari itu. Scroll, scroll, scroll. Akhirnya sudah keluar jadwalnya. “Alhamdulillaah jadwal diklat sudah keluar mbak Titi”, seru Tiyas kepada teman sekantornya yang sedang duduk di sebelahnya. Setelah mengunduhnya, Tiyas mulai mencari namanya. Pertama-tama ia Ctrl+F namanya, Tiyas Ratnasari. Namun, tidak ditemukan. Akhirnya ia mencarinya dengan manual. Langsung menuju urutan huruf T dan Tiyas hanya mengernyitkan dahi. Yang ia temui hanya nama Tyas Ratnasari dengan nomor induk dan lokasi kerja yang sesuai. “Ah salah tulis lagi kan”, gerutunya. Memang, Tiyas sering sekali mengalami masalah salah tulis nama. Selalu kurang huruf “i”. “Padahal sertifikat diklat ini tuh penting banget”, gerutunya lagi. “Udah lah yas, besok waktu registrasi kan bisa dibenerin. Bawa fotokopi akta kelahiran sama ijazah aja”, nasehat mbak Titi kepada Tiyas.

Waktu keberangkatan menuju lokasi diklat yang di ibukota pun tiba. Tiyas berangkat bersama lima teman sekantornya yang sama-sama mengikuti diklat dengan menumpang kereta malam. Selama semalaman Tiyas dan teman-temannya bercanda di dalam kereta sebelum akhirnya mereka tertidur pulas. 

Sesampainya di lokasi diklat, ia pun registrasi. Tak lupa Tiyas bilang kepada penyelenggara diklat bahwa namanya salah tulis. Oleh penyelenggara, Tiyas disuruh untuk ke ruangan sekertariat. Ia pun menuju ke sekertariat sambil membawa koper dan tasnya. Sesampainya di sana hanya ada satu orang laki-laki yang berpakaian dan membawa koper seperti Tiyas. “Pasti namanya salah tulis juga”, kata Tiyas dalam hati. Tiyas pun masuk hati-hati karena belum ada penyelenggara di sana. Sambil tersenyum cengengesan kepada laki-laki itu, ia permisi lantas duduk di kursi di depan laki-laki tersebut. “Dari mana?” tanyanya sebagai kalimat pembuka perkenalan. “Dari Jawa Timur”, jawabku malu-malu. “Loh sama, kota mana?” tanyanya lagi. “Tulungagung, kamu dari mana?” tanyaku ganti. “Ngawi, tapi kantorku di Madiun. Ada keperluan apa ke sekertariat?” tanyanya lagi. “Wah sedaerah nih. Anu, namaku salah tulis. Kamu sendiri kenapa?” balasku. “Sama hehe. Namaku kan Tiyo, T-I-Y-O, tapi di pengumuman kemarin tertulisnya T-Y-O. Aku khawatir nanti di sertifikat salah juga”, jawabnya. “Oalah, kalau aku Tiyas, T-I-Y-A-S, tertulisnya T-Y-A-S. Sama-sama kurang huruf “i” ya hehe”, kataku. Akhirnya kami pun berbincang beberapa saat sebelum tiba-tiba ada dua orang penyelenggara yang memasuki ruangan tersebut.

“Maaf ya adik-adik membuat menunggu lama”, kata salah seorang petugas. “Tidak apa-apa mas”, jawab kami berdua hampir bebarengan. Kami pun mulai mengurus perbaikan nama kami. Setelah itu kami langsung menuju asrama masing-masing yang letaknya ternyata berjauhan sambil mempersiapkan kegiatan diklat selanjutnya. 

Diklat ini memakan waktu dua minggu. Jadi, selama dua minggu seluruh peserta diklat dilarang mengadakan kontak dengan pihak luar. Untuk mencegahnya kami dilarang mengaktifkan handphone maupun gadget lainnya. Kegiatan diklat dimulai dengan upacara pembukaan di lapangan utama pada pukul 13.00 siang. Bayangkan panasnya ibukota ketika jam tersebut. Kemudian kegiatan pembagian kelompok untuk tiap-tiap kegiatannya. Tiyas pun mencari-cari namanya dan ia masuk ke dalam kelompok KALIMANTAN yang beranggotakan 15 orang. Beberapa penyelenggara mulai menyebar ke area lapangan sambil membawa papan nama kelompok. Tiyas menemukan papan kelompok KALIMANTAN dan menghampirinya. Terdapat 10 laki-laki dan 5 perempuan. Ternyata ia sekelompok dengan Tiyo yang sebelumnya bertemu di sekertariat. Seluruh anggota kelompok pun berdiskusi menentukan ketua dan sekertaris kelompok. Akhirnya ditentukan Tiyo sebagai ketua dan Tiyas sebagai sekertarisnya. Mereka pun juga membuat yel-yel dan mengatur strategi selama kegiatan diklat.

Interaksi Tiyas dan anggota kelompok semakin intensif karena selama dua minggu tersebut mereka harus menyelesaiakan setiap kasus yang diberikan. Kekompakan dan keceriaan selalu terjaga karena Tiyo sebagai ketua kelompok mampu mengampu kelompok dengan baik. Interaksi antara Tiyas dan Tiyo pun semakin hangat karena sebagai ketua dan sekertaris mereka sering diskusi internal sebelum pertemuan dengan anggota kelompok yang lain maupun setelah rapat besar dengan kelompok yang lain. “Yo, besok kan kegiatan kita outbound di lapangan, bagaimana kalau kita nanti malam kumpul bersama untuk membahas strategi outbound. Dengar-dengar waktu outbound ada banyak games dan ada pemilihan kelompok terkompak karena banyak games yang melatih kekompakan kelompok”, usul Tiyas kepada Tiyo seusai rapat besar. “Boleh juga Yas, nanti aku kasih tahu mereka sewaktu makan siang. Di tempat biasa aja ya Yas, boleh aku jemput kamu di depan asramamu?” pinta Tiyo. “With my pleasure, my leader,” jawab Tiyas sambil cengengesan. Memang, setiap kali rapat besar maupun rapat kelompok, Tiyo selalu menjemput Tiyas di depan asramanya karena letak gedung mereka yang bersebelahan.

Tiyas cepat-cepat turun ke lantai satu asramanya karena Tiyo sudah menunggu di bawah. Mereka pun berjalan bersama menuju lokasi rapat kelompok. “Eheeeeeemmmmm... Pak ketua dan Ibu sekertaris berduaan terus”, teriak Nanang, salah satu anggota kelompok. “Apa sih, sudah lengkap semua kan? Mari kita mulai saja ya”, elak Tiyo. Memang, Tiyas dan Tiyo sering bersama dan terlihat cocok karena sering berinteraksi dengan baik. Bahkan mereka sering juga mengalami perdebatan sengit hingga beberapa hari hanya beradu mulut. Namun, sebenarnya mereka sangat kompak.

Hari outbound tiba. Skor kelompok KALIMANTAN melesat bagai anak panah melewati kelompok-kelompok yang lain karena selalu menang dalam setiap games. Ketika istirahat makan siang, Tiyo mengambil tempat duduk di sebelah Tiyas. “Yas, makasih ya. Alhamdulillah kelompok kita sudah lumayan skornya,” kata Tiyo. “Ah apa sih Yo, ini semua berkat kerja keras kita semua apalagi kamu sebagai ketua,” jawab Tiyas tersipu malu. Tiyas dan Tiyo pun semakin hangat dalam perbincangan dan mulai membicarakan hal-hal pribadi. 

Ketika malam tiba, Tiyas sering teringat akan Tiyo. Begitu juga sebaliknya. Diam-diam mereka berdua mulai merasakan benih-benih perasaan yang berbeda diantara mereka. Tiyas mulai mencari tahu tentang Tiyo di sela-sela obrolannya dengan teman-teman lainnya. Begitu juga dengan Tiyo. Tiyas mulai merasakan getaran yang berbeda ketika sedang berada di dekat Tiyo. Namun, Tiyas sering mencoba untuk membohongi hatinya karena ia tahu jika Tiyo telah mempunyai perempuan lain di hatinya. Tiyo telah mempunyai pacar. Untuk menutupi perasaanya, Tiyas sering membully Tiyo dengan macam-macam julukan. Namun, perlakuan tersebut hanya malah membuat mereka semakin dekat karena Tiyo menimpali Tiyas pula.

Tak terasa 2 minggu begitu cepat hingga tibalah malam inagurasi. Tiyas merencakan untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya kepada Tiyo karena malam itu adalah malam terakhir mereka bisa bertemu kembali sebelum kembali ke kota masing-masing keesokan harinya. Tiyas telah merancang kalimat-kalimat yang akan diutarakannya. Tiyas mengikuti kegiatan malam inagurasi dengan mata tak pernah lepas dari Tiyo. Mengamati segala bentuk tingkah laku Tiyo dan mencari celah untuk berbicara. Namun sayang, hingga malam inagurasi usai, Tiyas dan Tiyo tidak terlibat perbincangan berdua. Tiyas pun gagal untuk mengatakan perasaannya.

Ternyata, Tiyo pun sebenarnya ingin mengungkapkan perasaan kepada Tiyas. Namun, ia masih ragu karena masih ada perasaan perempuan lain yang harus ia jaga. Ia masih berpacaran dengan perempuan lain. Tiyo masih harus berpikir ulang untuk mengatakan kepada Tiyas meskipun hati kecilnya meronta untuk berkata.

Malam itu, pertemuan terakhir Tiyas dan Tiyo. Dua sejoli yang dipertemukan karena salah tulis nama, teman sekelompok dan masing-masing menyimpang perasaan satu sama lain namun tidak bisa bersatu karena saling belum berani mengungkapkan perasaannya.

1 comment:

  1. Ahaaa i know this story, dengan sedikit penyesuaian biar gak ketahuan banget. wkwkwk #MRN

    ReplyDelete